Tindak Tegas Aksi Vandalisme

MERAPI-AWAN TURSENO  Sri Purnomo bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman mengecat cagar budaya Jembatan Rel Kereta Api Pangukan dari aksi vandalisme.
MERAPI-AWAN TURSENO
Sri Purnomo bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman mengecat cagar budaya Jembatan Rel Kereta Api Pangukan dari aksi vandalisme.

SLEMAN (MERAPI) – Maraknya aksi vandalisme terutama di bangunan cagar budaya menjadi keprihatinan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Sleman. Agar tidak terus berkembang dan semakin marak, pemda Sleman akan menindak tegas pelaku vandalisme sesuai hukum yang berlaku.

Menurut Bupati Sleman, Sri Purnomo aksi-aksi tersebut harus ditolak dan dikendalikan. Langkah yang ditempuh, yaitu memberikan pengertian kepada masyarakat khususnya bagi generasi muda agar menjaga lingkungan agar tetap selalu bersih, asri dan sedap dipandang mata.

“Jangan sampai tempat-tempat tertensu seperti tembok maupun cagar budaya menjadi ajang untuk aksi vandalisme. Untuk yang sudah kena vandalisme harus segera kita tutup, dicat kembali supaya terlihat bersih,” kata Sri Purnomo di sela-sela kegiatan anti vandalisme di Bangunan Cagar Budaya Jembatan Bekas Rel Kereta Api Pangukan, Jumat (23/8).

Pada kesempatan tersebut, Sri Purnomo menutup gambar dari hasil aksi vandalisme dengan dicat kembali. Tampak hadir Kepala Dinas Kebudayaan Sleman HY Aji Wulantara, beberapa kepala dinas, kepolisian dan jajaran TNI di lingkup kabupaten Sleman.

Dijelaskan Sri Purnomo, menutup kembali vandalisme terutama diruang publik menjadi tanggung jawab bersama baik masyarakat dan pemerintah. Sehingga diperlukan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat dan mengajak kepada generasi muda agar peduli kepada lingkungan sekitarnya. Jika terjadi aksi vandalisme agar diperingatkan dan ditutup kembali dengan cat.

“Kesadaran warga menjadi sangat penting untuk menghentikan aksi ini (vandalisme). Jika ingin mengekspresikan jiwa seninya, tuangkan ke tempat-tempat yang telah tersedia,” pintanya.

Ditegaskan Sri Purnomo, aksi vandalisme terutama di bangunan cagar budaya adalah perbuatan melawan hukum. Tetapi karena tidak tahu atau kurangnya pemahaman masyarakat, sehingga aksi tersebut dilakukan diobyek yang menarik dan mudah dijangkau.

“Mereka kemungkinan tidak tahu bahwa merusak maupun mencorat-corek cagar budaya ada hukumnya. Untuk itu kita harus sosialisasikan ke masyarakat terutama anak muda. Dinas Kebudayaan kerja sama dengan instansi lain serta kelompok masyarakat agar bisa mensosialisasikan hingga level paling bawah,” tegasnya.

HY Aji Wulantara menambahkan, lokasi cagar budaya yang tidak ada pengelolanya menjadi salah satu lokasi untuk merangsang aksi vandalisme. Seperti halnya Selokan Van Der Wijck atau lebih dikenal Buk Renteng sering menjadi sasaran corat-coret. Tetapi saat ini Dinas Kebudayaan Sleman telah bekerjasana dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk mencegah aksi tersebut.

“Kalau di Selokan Van Der Wijck kita telah berkerja sama dengan masyarakat dan generasi muda. Tetapi untuk Jembatan Rel Kereta Api Pangukan belum,”imbuh Aji. (Awn)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Ikut Pelantikan DPRD Pati, Seorang Haji Pulang Dipercepat

PATI ( MERAPI) - KBIH Al Khidmad Pati akhirnya berhasil memulangkan seorang jamaahnya dua pekan lebih awal (izin Tanazul). Sutikno

Close