AGLAONEMA INDONESIAN CONTEST 2019-Penilaian Meliputi Kesan Keseluruhan

Yuri saat menilai aglaonema yang diikutkan kontes. (MERAPI-SULISTYANTO)

KOMUNITAS Aglaonema Sleman ‘Sri Rejeki’ kompak menggelar even terkait hobi tanaman hias. Setelah menuai sukses pada tahun lalu, even bertajuk Aglaonema Indonesian Contest pada tahun ini diselenggarakan di kawasan Puri Mataram Tridadi Sleman, Minggu (7/7). Jumlah aglaonema yang diikutkan kontes, 181 tanaman terbagi dalam empat kelas.

Tiga juri nasional dan profesional diturunkan dalam even bergengsi ini, yakni Teguh Kebondeso (DI Yogyakarta), Wawan Kenkido (Malang) dan Hendri Sari-sari (DKI Jakarta). Faktor penilaiannya, mulai dari fisik tanaman (25 persen), kesehatan tanaman (25 persen), karakter dan kestabilan warna (20 persen), karakter/kestabilan warna (20 persen), kelangkaan varietas (5 persen) dan kesan keseluruhan (25 persen).

“Kesan keseluruhan, antara lain meliputi keserasian ukuran pot dengan tanaman sampai sentuhan akhir seperti kerapian penyajian dan kebersihan,” jelas Teguh di sela-sela acara.

Sedangkan menurut Ketua Sri Rejeki, R Agus Choliq, empat kelas dalam kontes aglaonema ini, yaitu majemuk (rumpun), jouvenil (maksimal sembilan daun), tunggal dewasa (minimal 10 daun) dan kocin (bebas). Peserta paling banyak di kelas jouvenil. Adapun peserta antara lain berasal dari DKI Jakarta, Malang, Bogor, Tangerang, Semarang, Kudus, Pati, Purworejo, Cilacap dan Lumajang. Sebagian peserta sudah datang beberapa hari sebelumnya, sehingga sekalian berwisata di DIY.

“Kegiatan penyemaraknya antara lain ada lelang tanaman aglaonema, hiburan dan pembagian aneka doorprize,” ungkapnya.

Sugiantoro bersama tiga anggota Komunitas Pecinta Tanaman Hias Gunungkidul, Kota Hinggil berharap acara seperti ini dapat rutin digelar. Pasalnya, sesama penggemar tanaman hias lebih khusus aglaonema dapat saling bertemu dan mempererat paseduluran, sesuai dengan tema yang diangkat tahun ini, yakni paseduluran saklawase.

“Kami juga bisa saling tukar pengalaman dan wawasan dalam merawat maupun membudidayakan aglaonema. Kalau di komunitas kami, standar perawatan aglaonema, misalnya tanaman sebaiknya tak terkena sinar matahari langsung, penyiraman rutin, pemilihan media tanam yang tepat dan pemupukan secara berkala,” beber Sugiantoro.

Adapun aglaonema juara I sampai Harapan II, Kelas Majemuk (Rumpun), yakni snow white – Iva (Kediri), costatum – Solikhin (Kediri), load of diamond – Agus (Muntilan), siamperl – Agus (Sleman) dan tiara – Agus (Sleman). Kelas Jouvenil, catrin – Longgar Segoro (Malang), Esmeralda – Kamasutra (Ambarawa), widuri – Kamasutra (Ambarawa), nathalie – Krokot Nursery (Sleman) dan mayswara dari Bogor. Kelas kochin, majesty – Pak Min (Magelang), charly brown – Komunitas Bogor, aglauna ebony – Komunitas Bogor, brownies – Harun (Malang) dan majesty – Ade (Karanganyar).

Adapun juara I sampai harapan II Kelas Tunggal Dewasa, yaitu goliath – Sawangan Team (Bogor), sartika – Kopas (Semarang), queen of siam – Krokot Nursery (Sleman), dara – Hendry (Salatiga) dan moonlight – Agus (Muntilan). (Yan)

Read previous post:
Az-Zahra Terapkan Filosofi Bunga

IBU-ibu PKK mempunyai banyak kegiatan bermanfaat bagi masyarakat. Sebagian kelompok PKK bahkan dapat mendirikan kelompok atau sejumlah seksi dengan kegiatan

Close