• Sabtu, 25 Juni 2022

Baca Puisi Malam Selikuran di Kotagede

- Minggu, 17 April 2022 | 14:15 WIB
Sigit Sugito Penggagas Malam Selikuran di Kotagede.  (Foto: Teguh)
Sigit Sugito Penggagas Malam Selikuran di Kotagede. (Foto: Teguh)

JOGJA, harianmerapi.com - Momentum "Malam Selikuran" di dalam bulan Ramadhan memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jawa pada umumnya.

Pada momentum itu diyakini menjadi awal turunnya Malam Lailatul Qadar pada malam-malam hitungan ganjil berikutnya.

Malam Lailatul Qadar, suatu malam yang memiliki nilai kebaikan setara dengan 1000 bulan atau 80 tahun, bagi mereka yang melakukan amalan solih dan kebaikan bertepatan di malam itu.

Baca Juga: BMKG Prakirakan Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia

"Ini malam-malam yang sangat besar nilainya bagi proses kehidupan manusia, sehingga kita memandang perlu untuk memanfaatkan momentum itu sebagai bagian dari sebuah proses mendekatkan diri dalam kesadaran refleksi kehidupan," urai Sigit Sugito penggagas Kegiatan Malam Selikuran di Kotagede kepada Merapi, Minggu (17/4/2022).

Menurut Sigit Kotagede sebagai tonggak kejayaan kerajaan Mataram Islam memiliki keunikan tersendiri, dimana antara agama dan budaya dapat bersinergis dalam kehidupan masyarakatnya yang riligius sekaligus humanis dalam kesehariannya.

Suasana yang adem ayem tidak lepas dari pengaruh ajaran para wali (Wali Sanga) dimasa lampau yang hingga saat ini atmosfirnya masih terjaga dengan baik. Menurut dia dihelatnya acara Pembacaan Puisi Malam Seribu Bulan, setidaknya mengembalikan semangat riligiusitas dan berkebudayaan yang telah ditanamkan para wali yang memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah.

Baca Juga: Kemendagri Pungut Biaya Akses NIK Rp 1000, DPR Akan Awasi Ketat

"Akulturasi budaya yang telah dirancang oleh para wali dengan memasukan budaya asli masyarakat Jawa ke dalam media berdakwah, menjadi identitas tersendiri sebagai Islam Jawa penuh dengan laku spiritual," tuturnya.

Tidak hanya dalam mengkemas ajaran agama Islam menjadi mudah dipahami dan memikat masyarakat Jawa saat itu, para wali juga memasuki ranah sastra dan kebudayaan yang kemudian memunculkan berbagai kajian dalam bentuk suluk serta tembang pujian yang indah. Suasana itulah yang meurut Sigit penting dikembalikan dalam semangat "Malam Selikuran " ini.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X