• Minggu, 23 Januari 2022

Perjalanan Hidup Seniman Ludruk Cak Kartolo, dari Gagal Masuk PNS hingga Jual Rumah

- Kamis, 2 September 2021 | 05:52 WIB
 Cak Kartolo sedang berada dalam rumahnya  (ANTARA/Hanif Nashrullah)
Cak Kartolo sedang berada dalam rumahnya (ANTARA/Hanif Nashrullah)

SURABAYA, harianmerapi.com - Cak Kartolo, nama yang selalu melekat dengan kesenian tradisional Ludruk Jawa Timur. Sama dengan seniman yang lain, Cak Kartolo pun merasakan beratnya menghadapi dampak Covid-19.

Mulai dari bertahan hidup untuk dirinya sendiri maupun keluarganya, hingga bagaimana menjaga kesenian tradisional yang digelutinya agar tetap lestari.

"Menjadi seniman ludruk sebenarnya bukan cita-cita saya," kata Cak Kartolo saat ditemui di rumahnya, Jalan Kupang Jaya I Surabaya, Rabu (1/9/2021).

Semula pria berusia 75 tahun itu bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil (PNS), namun apa daya, ia hanya memegang ijazah Sekolah Rakyata.

Lahir di Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, setelah lulus dari Sekolah Rakyat yang setara dengan sekolah dasar di Tahun 1959, Kartolo diajak merantau ke Surabaya oleh ayahnya.

Baca Juga: Arwah Gentayangan Jadi Tumbal Siluman Kuda

Singkat cerita, lantas bertemu seniman ludruk Cak Basman, yang kelak menjadi ayah mertuanya, setelah Kartolo mempersunting putrinya, Ning Kastini.

"Saya belajar karawitan dan kemudian pentas ludruk bersama Cak Basman dan kawan-kawan," ucapnya.

Di era 1970-an, Kartolo menjalani pentas ludruk "tobong", yaitu berpindah-pindah gedung pertunjukan dari satu kampung ke kampung lainnya di wilayah Kota Surabaya dan sekitarnya.

Tahun 1980-an, ketika masyarakat mulai memiliki televisi di rumahnya masing-masing, berdampak pada sepinya penonton di tiap pementasan ludruk tobong.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Sumber: Antara

Tags

Terkini

X