Pameran ‘Now and Then’ Bangkitkan Iklim Seni Rupa Kulonprogo

Salah satu pengunjung menikmati karya yang dipamerkan. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

PARA perupa Kulonprogo yang tergabung dalam Komunitas Api Kata Bukit Menoreh menggelar pameran bertajuk Now and Then di Sugriwa Subali Cafe, Terbah Wates. Puluhan karya para perupa baik Kulonprogo maupun daerah sekitar dipamerkan di cafe tersebut mulai Sabtu (13/3) hingga sebulan ke depan.

Sedikitnya 25 perupa menyuguhkan 30 karya lukisan dan satu karya patung. Di antaranya milik Dwi Haryanta, Wildan R, Tegus Eswe, Juan Dali, Mamik Slamet dan sebagainya. Beberapa perupa dari Yogyakarta juga dilibatkan dalam event ini agar bisa menjalin sinergi dan bertukar informasi dengan perupa Kulonprogo.

Salah satu perupa Kulonprogo anggota Komunitas Api Kata Bukit Menoreh yang juga pemilik Sugriwa Subali Cafe, Himawan Ardhi menyampaikan, penyelenggaraan pameran Now and Then berawal dari kemunculan tekad para perupa untuk menggelar event di Kulonprogo. Sebab selama ini, perupa Kulonprogo lebih banyak aktif dalam pameran yang diselenggarakan di Yogya seperti Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Rumah Budaya Tembi, Bantul.

“Seiring perkembangan Kulonprogo, kami memberanikan diri untuk lebih giat menggelar pameran di daerah sendiri. Kami cari ruang pamer hingga ditemukan beberapa tempat yang potensial seperti Omah Seni Laras di Samigaluh dan Cafe Sugriwa Subali,” kata Ardhi, Senin (15/3).

Dalam pembukaan pameran Now and Then, para perupa membacakan puisi dengan tema bebas. Ardhi menyebut, ada sejumlah perupa yang memiliki ketertarikan terhadap sastra. Ia pun berharap event pameran ini dapat menjadi upaya memupuk iklim seni rupa di Kulonprogo, mengingat sejauh ini pameran seni rupa masih digelar di Yogya.

Ardhi berpendapat, perupa Kulonprogo layak menggelar pameran di daerahnya sendiri untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Kabupaten ini punya seniman cukup banyak yang mampu menghasilkan karya-karya luar biasa. Bahkan, beberapa seniman asal Kulonprogo sudah tersohor di Yogyakarta hingga tingkat nasional.

“Seniman muda juga ba-nyak, mereka punya background pendidikan seni. Hanya saja selama ini masih berjalan sendiri-sendiri sehingga perlu diberi wadah untuk berkembang bersama,” imbuh Ardhi.

Ia pun berharap, penyelenggaraan pameran seni rupa di Kulonprogo bisa berkelanjutan untuk mengikuti perkembangan daerah yang semakin maju. Tidak menutup kemungkinan, ke depan pameran di Kulonprogo justru akan diikuti seniman dari luar daerah.

Salah satu seniman senior di Kulonprogo, Surajio menyampaikan, perupa Kulonprogo harus berani menguatkan wilayah mengingat perkembangan daerah ini terus berlangsung, meliputi berbagai sektor. Kulonprogo semakin maju sehingga para seniman dituntut untuk siap tampil memamerkan karya-karya unggulan.

“Selama ini seniman kota lebih disorot. Kita harus buktikan kalau kita punya kemampuan. Penyelenggaraan pameran tidak masalah mau di manapun tempatnya, yang penting harus membang-kitkan daerah sendiri,” tegasnya.

Surajio berpendapat, potensi seni rupa Kulonprogo terbilang bagus. Hanya saja, para perupa masih kurang percaya diri untuk tampil.

“Mereka juga kebingungan, harus bagaimana, siapa yang membimbing dan sebagainya,” ujar Surajio.

Karenanya, Surajio mendorong penyelenggaraan pameran Now and Then serta berharap event serupa bisa digelar rutin. Gerakan sekecil apapun bisa membangkitkan semangat para perupa untuk berkarya demi menyambut perkembangan Kulonprogo ke depan.

“Sehingga ketika nanti seni budaya Kulonprogo jadi sorotan, kita sudah siap,” tegasnya. (Unt)

Read previous post:
Berikan Diskon Produk dan Ongkir, Ederra Banjir Order di HUT ke-5

Close