Artjog Resilience dan Tata Kebiasaan Baru

COVID-19 menghajar perekonomian di tiap lini, termasuk kesenian. Banyak pelaku, pegiat, dan penikmat seni terkena dampak ekonomi di Yogyakarta. Namun, kesenian di Yogyakarta selalu menemukan jalan keluar lalu menjadi tolok ukur kota lainnya. Saat ini dunia seni mulai bangkit. Bukan latah mengikuti kebijakan dari pemerintah, namun kebangkitan itu lahir karena dunia seni Yogya punya daya tahan luar biasa. Artjog “Resilience” yang digelar di Jogja National Museum hingga 10 Oktober mendatang bukti bagaimana ketahanan seni Yogyakarta di tengah krisis.

“Kami memberanikan diri untuk menyelenggarakan lagi bukan karena latah untuk mengikuti tata kebiasaan baru. Festival tahun ini tidak hanya didasari oleh keinginan untuk bangkit, tapi lebih kepada menguji kembali ketahanan kita,” kata Direktur Artjog Heri Pemad.

MERAPI-AGOES JUMIANTO
Rajut sulam karya Mulyana Mogus.

Artjog 2020 melibatkan 78 seniman yang sebagian besar berasal dari DIY. Mereka ada-ah Agan Harahap feat Bhumikaplanta, Ayu Arista Murti, Fika Ria Santika, I Gusti Ngurah Udiantara a.k.a Tantin, Melati Suryodarmo, Abdi Seti-awan, Agung Prabowo, Agung Kurniawan, Agung Mangu Putra, Agus Suwage, Angki Purbandono X Ranah Bhumi, Arahmaiani, Arin Dwihar-tanto Sunaryo, Ay Tjoe Christine, Bob Sick (Bob Yudhita Agung). Cinanti Astria Johansjah, Citra Sasmita, Dipo Andy, Djoko Pekik, Eddy Susanto, Eko Nugroho, Enka Komariyah, Entang Wiharso, Erizal AS, F. Sigit Santosa, Franziska Fennert, Galam Zulkifli, Gilang Fradika, Gunawan Bonaventura, Gusmen Heriadi, Heri Dono, Iabadiou Piko, Ivan Sagita, Jalan-pulang, Jompet Kuswida-nanto, Jumaadi, Jumaldi Alfi, Justian Jafin, Kemalezedine, Laksmi Shitaresmi, Lucia Hartini, MA Roziq, Malcolm Smith, Maryanto, Meliantha Muliawan, Mella Jaarsma, Muhamad ‘Ucup’ Yusuf, Mulyana Mogus, Nadiah Bama-dhaj, Nasirun, Nindityo Adi Purnomo, Nyoman Masriadi, Nyoman Nuarta, Pupuk Daru Purnomo, Putu Sutawijaya, RE Hartanto, Restu Ratnaningtyas, RM Soni Irawan, Robby Dwi Antono, Rosit Mulyadi, Rudi Mantofani, Samsul Arifin, Setu Legi (Hestu A. Nugroho), Siti Adiyati, Sunaryo, Syagini Ratna Wulan, Theresia Agustina Sitompul, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, Uji Handoko Eko Saputro a.k.a. Hahan, Wedhar Riyadi, Wimo Ambala Bayang, Yaya Sung, Yusra Martunus, dan Zico Albaiquni.

Sejak pintu masuk, penikmat pameran sudah disuguhi karya apik. Lorong berdinding besi mengantar pengunjung ke dalam ruang pamer dipenuhi karya yang tidak hanya merekam, mereplikasi, bahkan meramalkan realitas sosial. Lukisan karya Putu Sutawijaya berjudul “Bakti Pertiwi” con-tohnya. Karya ini terinspirasi dari Relief Garudeya di Candi Kedaton Probolinggo yang sangat inspiratif dan tidak lekang oleh waktu sehingga bisa dibaca dan diterjemahkan dengan segala ekspresi. Kisah sang Garudeya yang sedang sungkem menghadap ibunya sangat menginspirasi, di mana di dalam kisahnya Garudeya berjuang untuk membebaskan ibunya dari perbudakan Kadru dan naga-naga yang licik.
Para ular naga kemudian meminta syarat kepada Garudeya bahwa ia dapat membebaskan ibunya dengan syarat Garudeya harus mendapatkan air amertha yang dimiliki para dewa. Garudeya menyanggupi dan segera mohon izin ibunya untuk berangkat ke kahyangan. “Sebuah kisah yang masih relevan dengan kondisi kita saat ini, baik dalam kehidupan bernegara maupun pada kehidupan sehari-hari yang lebih personal,” terang Putu.

Artjog 2020 menjadi gelaran pariwisata MICE (Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions) pertama yang berlangsung di Yogyakarta sejak pandemi Covid-19 melanda. Rencananya, panggung seniman nasional itu bakal dibuka 1 September nanti untuk publik. Sejumlah protokol kesehatan akan diterapkan agar selama festival berlangsung pengun-jung merasa aman dan nyaman. Kurator Artjog 2020, Bambang Toko, menegaskan tidak akan main-main dalam menyiapkan protokol kesehatan selama pameran berlangsung.

“Pengunjung harus daftar dulu lewat portal online kami. Jadi, nanti di lokasi tinggal scan QR Code saja, sehingga tidak ada sistem ticketing ma-nual. Jumlah pengunjung dalam satu sesi atau dua jam dibatasi 30-50 orang. Mungkin bisa dimaksimalkan 50 orang per sesi karena kapasitas ruang di Jogja National Museum (JNM) juga mencukupi,” beber Bambang Toko. (Des)

Read previous post:
Cerita Bergambar W.A.S.P

Close