Manfaatkan Medium Panci Bekas, Sitok Srengenge Pamerkan Karya Lukis

Suasana pengunjung di ruang pameran Malih Rupa. (Merapi-Teguh)

MEMANFAATKAN limbah serta barang bekas dari peralatan dapur berbahan alumunium menjadi media lukis merupakan hal baru yang dilakukan Sitok Srengenge (55), dalam menuangkan ide kreatifnya. Penulis Puisi, Novel dan Esai yang juga perupa ini menggelar karya-karya lukis terbarunya berbahan alumunium bekas dalam tajuk Malih Rupa di Resto Jawa Jawi, Bangunjiwo, Kasihan yang menjadi studio sekaligus tempat tinggalnya, Sabtu (22/8).

Pameran tunggal kedua ini menurut Sitok selain sebagai rasa syukur memasuki usianya ke 55 tahun, juga menjadi ajang silaturahimnya kepada sahabat dan kerabat dekatnya. Ha-dir dalam pembukaan pameran Budayawan Gunawan Muhammad, Whani Darmawan juga pengamat dan kolektor seni Syakieb Sungkar yang sekali-gus membuka pameran yang dihelat hingga 22 September mendatang.

“Malih Rupa ini mencoba menawarkan penaknaan kembali atas yang silam, termasuk yang usang dan terbuang dengan wujud yang baru. Saya persembahkan pameran ini sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan penghormatan terhadap hidup ini,” tutur Sitok kepada Merapi disela acara pembukaan yang berlangsung hikmat dan meriah.

Ada konsep unik yang ingin disampaikan Sitok lewat karya-karya lukis berbahan metal ringan itu, selain menjadi gebrakan baru dalam kerja kreatifnya di seni rupa. Dengan memanfaatkan limbah dan barang bekas peralatan dapur menjadi lukisan bermutu merupakan sesuatu yang unik untuk terus ditelaah secara filosofinya. Terlebih dalam penjudulan terhadap karya-karya itu sedemikian kental dengan nuansa kehidupan dan filosofi orang Jawa kebanyakan, ini memberikan makna tersendiri terhadap pameran itu.

Puluhan karya Sitok yang dipamerkan kali ini sangat beda dengan nuansa pada pameran kali pertamannya dulu. Ada perjalanan waktu yang ke-mudian bermetamorfosis yang dalam bahasa Sitok disebutnya Malih Rupa ini, seperti karya Sangkan Paran, Ibu Bumi, Bapa Angkasa, Purwasari, Anggara Kasih, Jumbuhing Jiwangga, Garba Kala, Malih Rupa, Ananing Ning, Gedono Gedini, Sedulur Papat Lima Pancer, Julung Wangi, Julung Pujut, Julung Sungsang, Sinaradewi.

“Tajuk Malih Rupa ini saya pilih untuk mengganti istilah metamorfosis. Bagi saya Malih Rupa terasa lebih mewakili ungkapan kesadaran, secara personal mapun kultural. Se-lain konotasi positif juga memp-erkaya pemaknaan yang mewakili kesadaran akan kelahiran, kehidupan dan gerak metafisik sebelum mapun sesudahnya,” tutur Sitok.

Sementara itu menurut Syakieb Sungkar, karya-karya Sitok dikenal abstrak. Namun dengan memanfaatkan media lukis yang unik seperti panci bekas dan alat dapur dengan percobaan medium seperti ini, karya-karya Sitok menyuguhkan suatu pengalaman visual baru yang menarik sekaligus menantang. (C3)

Read previous post:
Wayang Clumpring Eko Rahmi

EKPLORASI ide kreatif dengan memanfaatkan medium yang tercecer dari alam, bukan saja menghasilkan karya unik dan menarik namun juga mencerminkan

Close