OM Wawes Rilis Album “Restu” dan Buku “Babat Alas Dangdut Anyar”

OM Wawes saat jumpa pers. (Merapi-Swadesta)

GAUNG album perdana band dangdut remukan ati Om Wawes sebenar-nya sudah terdengar sejak awal tahun 2020. Album bertajuk “Restu” itu akan rilis April 2020 lalu namun harus ditunda karena menyebarnya Covid-19. Untuk mengobati rasa penasaran penggemar, band yang setia di genre dangdut sejak 2012 itu merilis single “Yen Wis” terlebih dulu.

Single yang dirilis dengan video musik ke kanal Youtube mereka mendapat sambutan luar biasa. Musik dangdut yang dipermanis tiupan saxophone Danar Pam ini sama kuatnya dengan ‘memori’ orang-orang yang akrab dengan bus kota. Usai momen itu tampaknya Om Wawes mulai mempersetankan realita yang nyaris babak belur dihantam Covid. “Restu” akhirnya mereka rilis Rabu (19/8) di hadapan awak media, musisi, dan fans di Frogshelter.

“Yawis gas saja, sekarang ini jarang ada band dangdut yang berani merilis album. Buat kami harapannya band dangdut lain terpacu membuat album,” terang Dhyen Ganjar vokalis Om Wawes.

Lagu-lagu dalam “Restu” berbahasa jawa. Om Wawes tak mau mengubah kekhasan itu. Meski ada tawaran go nasional atau internasional Dhyen menegaskan OM Wawes tetap dengan keputusan mereka. Karakter musik juga makin mantap karena mengajak kolaborator tepat. Misalnya saja Nufi Wardhana, Pampam, Pendoza, dan Zaenal Produk Gagal.

“Kenapa bahasa Jawa ya inilah karakter Om Wawes, saya bangga dengan bahasa daerah sendiri. Terus untuk musiknya, bevini karakter musik kami. Lagipula wagu kalau pas live yo mellow meski liriknya ya pedih begitu,” sambung Dhyen.

Tidak hanya album, Dhyen Ganjar (Vokal), Louis David (Kendang), Tony Kurniawan (Drum), dan Bayu Garnida (gitar) menemani “Restu” dengan buku berjudul “Babat Alas Dangdut Anyar” yang ditulis Michael HB Raditya. Kiki Pea dilibatkan sebagau editor sementara sampul buku yang diterbitkan Yayasan Kajian Musik Laras ini digarap Iwank HS dan Catur Danang. Alih-alih berisikan biodata personal, buku ini justru mengartiku-lasikan konstelasi dangdut di Yogyakarta sebelum dan sesudah mereka hadir.

Pada bagian awal, pembaca akan dibawa dengan sekejap pada keadaan dangdut berturut-turut di tahun 1970, 1980, 1990, 2000, dan 2010-an. Baru setelahnya, buku ini menceritakan perjalanan OM Wawes, mulai dari format penyanyi solo, electone, hingga band.

“Alhasil buku ini tidak hanya dapat membaca sejarah masa lalu dangdut di Yogyakarta, tetapi juga mengurai dangdut masa kini, dan menerka bagaimana masa depan dangdut di Yogyakarta ataupun nasional,” terang Michael HB Raditya. (Des)

Read previous post:
Remaja Kulonprogo Jadi Sasaran Pengedar Pil Koplo

Close