Untuk Mereka di Garda Terdepan Covid-19, Donny Verdian Rilis ‘Suluh’

Donny Verdian

DALAM  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) suluh adalah barang yang dipakai untuk menerangi (biasa dibuat dari daun kelapa yang kering atau damar) atau obor. Pengamat musik sekaligus superblogger Indonesia, Donny Verdian, menggunakan kata itu untuk judul lagu terbarunya yang kini sudah bisa dinikmati di banyak platform dengar digital.

“Suluh” bagi Donny, adalah bentuk afirmasi terhadap orang-orang yang berdiri di garis terdepan menghadapi pandemi Covid-19. Lewat “Suluh” pula, pengamat musik yang kini bermukim di Australia itu menegaskan bahwa orang-orang terdepan itu kini memberi penerang dalam kegelapan yang saat ini menyelimuti dunia.

“Pandemi buat sata sebagai masa yang gelap nan menyesakkan. Ibarat malam, kita tidak tahu kapan pagi menjelang. Tapi di masa yang gelap ini saya melihat ada pelita dari paramedis yang bertugas lalu relawan yang mau mengorbankan diri mengurus jenazah,” kata Donny.

“Suluh” bukan kali pertama Donny mereplikasi realita lewat musik. Tahun 2018 lalu ia pernah merilis “Raja Singa” tentang aksi Kamisan di depan istana. Replikasi lainnya ada di lagu “Saat Kunanti Pulang” untuk mendiang ibunya. Sama dengan lagu-lagunya yang telah dirilis sebelumnya, Donny selalu jujur.

“Baik-buruk tidak melulu jadi takaran dalam berkarya. Saya tidak berpikir lagu saya akan disukai pendengar. Keberanian untuk men-ceprot-kan karya yang mutlak harus dimiliki orang yang bergerak dalam dunia kreatif,” sambungnya.

Kemudahan teknologi sangat dimanfaatkan Donny yang bisa memainkan instrumen gitar, bass, dan kibor ini dalam berkarya. Ia merekam lalu menata suara “Suluh” secara digital lewat perangkat Musical Instrument Digital Interface (MIDI). Proses rilis pun tak ruwet seperti zaman dulu karena teknologi saat ini juga memudahkan para musisi memperkenalkan musiknya sendiri. Tak mengagetkan bila saat ini banyak orang yang memanfaatkan kemudahan ini agar tak menjadi tuna karya.

“Ketika banyak yang heran kenapa saya merilis lagu, jawabannya ya hanya ‘kenapa tidak’. Berkat kemajuan dan kemudahan teknologi serta mudahnya membangun relasi lewat media sosial, bayangan rekaman dan merilis karya lagu ke publik menjadi sangat mudah dilakukan,” tegas Donny.

Berkarya adalah salah satu mimpi pengamat musik yang lahir di Klaten lalu dibesarkan di Yogyakarta ini. Sejak remaja, Donny selalu punya mimpi membuat band lalu masuk dapur rekaman. Berdesakan naik kereta ke Jakarta untuk rekaman, rilis album, menjadi artis, punya banyak fans, dan terkenal adalah mimpi masa mudanya sebelum 10 tahun lalu hijrah ke Australia bersama istri dan kedua anaknya. (Des)

Read previous post:
Cerita Bergambar W.A.S.P

Close