Canangkan Edisi Tanggap Darurat, ARTJOG Ditunda Sampai 2021

ARTJOG (harianmerapi/dokumentasi Artjog)
ARTJOG (harianmerapi/dokumentasi Artjog)

MELUASNYA Covid-19 di Indonesia sejak awal Maret lalu memukul banyak sektor. Tidak hanya kesehatan dan ekonomi, sektor kesenian juga merasakan efek domino dari Covid-19. Perhelatan festival seni rupa yang kerap dibilang “Lebaran-nya” para perupa: ARTJOG salah satu yang terkena dampaknya. Pemberlakuan masa tanggap darurat nasional membuat perhelatan bertajuk “Time (to) Wonder” ini ditunda sampai tahun 2021.

“Rencana awal ARTJOG akan berlangsung Juli nanti. Namun, mengingat krisis layanan kesehatan nasional yang belum juga membaik, dan dampak pandemi global yang masih sangat sulit diprediksi, kami menggeser waktu penyelenggaraan ARTJOG ke tahun 2021, sekaligus mencanangkan ‘edisi tanggap darurat’ yang bertujuan merespon situasi yang melanda Indonesia saat ini,” beber Heri Pemad, CEO Heri Pemad Manajemen sekaligus Direktur Eksekutif ARTJOG.

Mewakili tim, Heri Pemad juga meminta maaf kepada semua pendukung ARTJOG dan para seniman yang telah mereka undang untuk berpartisipasi pada festival tahun ini. Ia sekaligus memastikan tidak ada perubahan formasi seniman yang akan berpartisipasi. Ditya Sariastuti, Wakil CEO HPM membenarkan Heri Pemad. Minggu lalu HPM telah mengirimkan surat pada para seniman tentang keputusan penundaan ini.

“Kami juga menegaskan bahwa mereka masih akan tetap terlibat dalam pameran tahun depan, kecuali jika memang ada yang tiba-tiba mengundurkan diri karena alasan tertentu,” sambung Ditya.
Sementara itu perihal ‘edisi tanggap darurat’ yang dikemukakan Heri Pemad dipaparkan tim kurator ARTJOG. Bambang Toko Witjaksono, pendiri sekaligus kurator ARTJOG menjelaskan krisis yang tengah dihadapi miliaran dunia menjadi momentum besar bagi praktisi kesenian untuk sejenak mengambil jeda, berpikir secara lebih jernih, kritis, dan reflektif tentang pola-pola rutin yang selama ini telah berjalan.

“Penundaan malah secara tidak sengaja ‘menegaskan’ misi kuratorial yang kami maksud dalam tema tahun ini, Mungkin krisis ini justru memberikan ‘waktu’ kepada kita semua untuk bertanya-tanya, berpikir dan merenung kembali. Misalnya tentang apa yang bisa kita sumbangkan kepada dunia dalam situasi hari-hari ini.” sambung kurator lainnya, Ignatius Tilu meneruskan Bambang.

ARTJOG mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah untuk memberlakukan berbagai aturan maupun larangan apapun selama masa tanggap darurat nasional ini. Namun, di sisi yang lain, ARTJOG juga masih percaya bahwa para perupa adalah kelompok sosial yang tidak pernah mengenal kata menyerah di hadapan krisis. Sejarah telah membuktikan bagaimana karya-karya seni besar justru dapat lahir di tengah berbagai situasi krisis kemanusiaan yang pelik.

“Karena itu pula, saat ini manajemen HPM dan tim kurator ARTJOG tengah mematangkan ide-ide baru untuk menghelat sebuah kegiatan khusus yang tetap akan dilangsungkan pada tahun ini. Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kreativitas para seniman tidak serta-merta mati dihantam krisis,” tegas Heri Pemad. (Des)

Read previous post:
Patroli Sapa Warga, Satpol PP Ingatkan Jaga Jarak dan Pakai Masker

Close