Pesona Batik Geblek Renteng dalam Sepuluh Gaya

MERAPI-AMIN KUNTARI Fashon show lomba desain busana batik Kulonprogo di Alun-Alun Wates.
MERAPI-AMIN KUNTARI
Fashon show lomba desain busana batik Kulonprogo di Alun-Alun Wates.

MOTIF Geblek Renteng yang sukses menjadi ciri khas batik Kulonprogo, telah digunakan sebagai seragam pegawai instansi pemerintah, perusahaan swasta dan pelajar sekolah di wilayah setempat. Baru-baru ini, pesona motif dengan gambar menyerupai makanan khas Kulonprogo tersebut, diwujudkan dalam berbagai busana menarik karya sepuluh desainer ternama di DIY.

Di tangan para desainer ternama, batik motif Geblek Renteng terlihat begitu elegan. Mereka mengemas busana dengan berbagai gaya, lengkap dengan padu-padan warna yang apik. Sepuluh karya ini dipamerkan dalam fashion show lomba desain busana batik Kulonprogo, sebagai rangkaian acara Gebyar Batik Kulonprogo di Alun-Alun Wates, pekan lalu.

Di panggung catwalk yang disediakan panitia, sepuluh busana batik karya desainer ternama di DIY ini dikenakan para model. Langkah anggun para model pun menambah kesan elegan busana batik Geblek Renteng yang dihasilkan desainer. Tepuk tangan meriah disertai tatapan mata kagum seketika memenuhi area panggung.

“Luar biasa. Batik Kulonprogo ini sangat pantas berada di Jakarta,” kata Wakil Ketua Dekranasda DIY, Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu (BRAy) Adipati Paku Alam X.

Menurut Gusti Kanjeng BRAy, batik-batik Kulonprogo yang dikemas cantik ini seolah menjadi bukti DIY sebagai Kota Batik Dunia. Pihaknya berharap para desainer dan perajin batik terus mengasah kreativitas, menghasilkan karya-karya apik yang membanggakan.

“Kita harus buktikan dan pertahankan predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia,” tegasnya.

Sepuluh desainer yang menjadi peserta lomba yakni Cahya Budiyana, Vinzen Alvionita, Retno Eka Oktaviani Wiyanto, Ari Kurnia, Putri Rahma Amalya Chairunnisa, Yasinta Wening Pratiwi, Diah Indah Pratiwi, Rahmawaty, Rianna Kusumawardhani dan Bayu Permadi. Setelah memamerkan karyanya di depan dewan juri, Putri Rahma Amalya Chairunnisa dinobatkan sebagai Juara I, kemudian posisi runner up diduduki Ari Kurnia, sementara Juara III adalah Retno Eka Oktaviani Wiyanto. Sebagai Juara Harapan I, dipilih karya dari Rianna Kusumawardhani. Sementara Juara Harapan II yakni Vinzen Alvionita, serta Juara Harapan III Bayu Permadi.

Gebyar Batik Kulonprogo bertujuan untuk mendukung pelaksanaan Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018 sebagai upaya untuk mempertahankan predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia (World Batik City). Tahun ini JIBB mengusung tema Innovation for Sustainable Future.

JIBB sendiri merupakan acara yang digelar setiap dua tahun sekali, untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan batik di Indonesia. Selain itu, juga menjadi media untuk semakin mengenalkan tradisi batik ke seluruh dunia. Sebagai Kota Batik Dunia, Yogyakarta harus senantiasa bertanggungjawab menjaga dan mengembangkan tujuh kriteria yang ditetapkan World Craft Council (WCC) sebagai dasar penetapan predikat tersebut.

Selain lomba desain busana batik Kulonprogo, digelar pula pameran batik, workshop Ayo Membatik, talkshow interaktif batik dan fashion show IKM batik. (Unt)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Sri Plecit Ska, turut meramaikan 'Yogyakarta Ska Festival'.
YOGYAKARTA SKA FESTIVAL 2018 – Lahir dari Kegelisahan Komunitas Ska

SETELAH melewati banyak festival dan panggung musik tematik, September ini Yogya akan diwarnai lagi dengan acara yang menarik, 'Yogyakarta Ska

Close