Papa Mama Mesem di FKY 30

MERAPI-DOKUMENTASI FKY Penampilan teater 'The Happy Family' di Panggung Seni FKY 30.
MERAPI-DOKUMENTASI FKY
Penampilan teater ‘The Happy Family’ di Panggung Seni FKY 30.

FESTIVAL Kesenian Yogyakarta (FKY) 30 terus memberikan sajian menghangatkan setiap harinya. Teater salah  satunya. Tahun ini, program Teater FKY 30 menampilkan dua kelompok: Teater Sakatoya dan Forum Aktor Yogyakarta. Sabtu (3/8/2018) malam lalu, Teater Sakatoya lebih dulu naik panggung. Mementaskan naskah berjudul ‘The Happy Family’ yang disutradarai B.M. Anggana, Teater Sakoya memberi pertunjukkan khusyuk yang disaksikan ratusan pasang mata. Sementara itu Forum Aktor Yogyakarta akan mementaskan naskah berjudul “Nishkala” Senin (6/8/2018) malam. Mereka memberikan kemerdekaan (semeleh) kepada penikmat Teater menyikapi perbedaan dan keberagaman.

Naskah teranyar Anggana kemarin menceritakan kehidupan pasangan Papa dan Mama yang tetap bisa mesem sambil berkeliling menjajakan Krim Sup Mimpi di tengah-tengah keramaian festival. Panggung pementasan ini cenderung bergerak-berpindah di seputar lokasi Pasar Seni FKY 30.

“Pentas teater yang disiapkan selama satu bulan ini berkisah tentang kehidupan pasangan Papa dan Mama yang berkeliling menjajakan Sup Krim Mimpi di tengah-tengah keramaian festival. Sup Krim Mimpi mereka begitu lezat karena dibumbui oleh sebuah resep ‘rahasia’, yakni sesuatu yang pernah dimiliki semua orang yang tanpa disadari mungkin telah mereka kuburkan,” ungkap Anggana.

Papa dan Mama mengumumkan mereka akan menggelar Open Kitchen tentang cara dan resep memasak sup krim mereka secara langsung sehingga bisa viral dan eksis di masyarakat. Terpikat eksistensi dunia maya, kepulangan Anak pun disambut tanpa adanya komunikasi. Proses viral berjalan dan Mama berhasil menghimpun banyak komentar. Akhirnya, resep rahasia yang paling akhir harus ditampilkan ke publik. Resep rahasia itu rupanya terdapat pada si Anak. Pada titik inilah Anak memulai pemberontakannya, menghimpun argumen massa demi mengalahkan Papa dan Mama.

“Di dunia maya, bisa dikatakan orang-orang berlomba untuk memunculkan sisi bahagia dari dirinya. Namun, kenyataannya tidak sehembring di sosial media. Lantaran sosial media yang sebagai alat komunikasi pada akhirnya menghilangkan komunikasi langsung dalam keluarga. Orangtua sibuk dengan bisnisnya, sang anak mengeluh di sosial media. Akhinya, itu jadi masalah baru,” sambungnya.

Teater yang dihadirkan Komunitas Sakatoya ini upaya menafsir tema ‘Mesemeleh’ ke dalam sebuah pertunjukan partisipatoris yang berusaha menyatu ke dalam suasana kemeriahan festival lalu membuka ruang interaksi dengan pengunjung yang ada. Naskah ini juga upaya menafsir realira kekinian terhadap disfungsi komunikasi keluarga karena efek eksistensi di dunia maya. (Des)

 

Read previous post:
Catat, Uji Kompetensi Massal dan Bursa Kerja Bakal Digelar di JEC

UMBULHARJO (MERAPI) - Uji kompetensi massal pendidikan nonformal dan bursa kerja bakal digelar pada 11-12 Agustus di Jogja Expo Center.

Close