Seniman Mural AS Warnai Desa Panggungharjo

MERAH-RIZA MARZUKI Salah satu seniman melukis mural di Kampus ISI.
MERAPI-RIZA MARZUKI
Salah satu seniman melukis mural di Kampus ISI.

MELUKIS bukan lagi sekadar menjadi media ekspresi seniman. Bahkan melukis dengan media dinding atau tembok yang sering disebut mural, digunakan sejumlah seniman asal San Francisco, Amerika Serikat (AS) untuk belajar tentang kultur masyarakat Yogya.  Sejak awal Juli 2018, tujuh seniman dari Negeri Paman Sam ini menggarap mural di delapan titik yang tersebar di Desa Panggungharjo, Sewon termasuk Kompleks Kampus ISI Yogyakarta.

Para seniman Amerika berkolaborasi dengan perupa Yogya untuk melibatkan masyarakat sekitar dalam proses mural yang tergabung dalam Clarion Alley Mural Project (CAMP). Kegiatan bertajuk Bangkit/Arise ini akan berakhir 6 Agustus, yang disusul dengan pengiriman perupa Yogya ke AS untuk melakukan program yang sama dua bulan berikutnya.

Koordinator program, Nano Warsono menjelaskan, titik mural disebar di antaranya di Kompleks Kampus ISI, Kampung Dolanan Pandes, dan Kompleks Balai Desa Panggungharjo. Proses selama lebih dari satu bulan ini tidak hanya digunakan untuk melukis, namun banyak diskusi yang dilakukan. Diskusi-diskusi melibatkan masyarakat sekitar sebagai wadah pembelajaran kultur bagi para seniman luar negeri tersebut. Selain itu, setiap detil konsep mural pun dirumuskan dengan mengkolaborasikan kultur masyarakat lokal dengan ide yang dibawa dari San Francisco. “Kita juga kerjasama dengan komunitas difabel, selain menggambar mereka juga menyajikan hiburan musik,” ungkapnya di ISI.

Nano menemui sejumlah kendala dalam pelaksanaannya. Kendala lebih banyak terjadi saat interaksi antara para pelukis asal Amerika ini dengan masyarakat. Meski sempat belajat bahasa Indonesia, namun karena keterbatasan bahasa dari masyarakat dan perbedaan tatacara pergaulan, membuat proses interaksi antarkeduanya membutuhkan waktu untuk penyesuaian lebih lama. Terkait dengan tema mural, Nano menjelaskan setiap lukisan yang dibuat merupakan akulturasi antara Indonesia dan AS. Dicontohkannya program mural yang berlokasi di Gedung Olahraga Balai Desa Panggungharjo. Dalam diskusi bersama pemerintah desa setempat, lukisan yang akan dibuat merupakan gambaran dari delapan program desa. Program desa yang dirumuskan tersebut ternyata erat kaitannya dengan tujuan dari beberapa pahlawan. “Seperti program pendidikan kami gambar Ki Hajar Dewantara, Program toleransi dan kesejahteraan kami gambar Gusdur, dan ada juga pahlawan dari Amerika,” terangnya.

Direktur CAMP, Megan Wilson merasa senang dengan program bersama ini. Kultur masyarakat desa membuatnya berkeinginan untuk menerapkannya di Amerika. Ketujuh seniman yang datang ke Indonesia membawa beberapa anghota keluarganya masing-masing. Sehingga program ini juga dirasakan oleh anggota keluarga yang lain. Megan mengaku tidak pernah menjumpai progam kemasyarakatan ini, pasalnya di tempat tinggalnya masyarakat lebih individualistis sehingga akan kesulitan untuk berkolaborasi. “Nanti akan kami bawa ini pulang dan dicoba di Amerika,” sebut seniman yang belum fasih berbahasa Indonesia ini.

Ketua Jurusan Seni Rupa Murni ISI Yogyakarta, Lutse Lambert Daniel Morin menjelaskan program ini merupakan pengulangan program serupa tahun 2003 dan 2013 lalu. Tahun 2018 ini melibatkan tujuh seniman AS, yakni Megan Wilson, Cristopher Statton, Jose Guera, Jet Martinez, Kelly Ording, Keyvan Shofir, dan Shaghayegh Cyrous. Program yang didukung San Fransisco Asian Art Museum ini akan terus digulirkan. Setelah selesai di Indonesia, tujuh seniman dalam negeri akan ke AS untuk mengikuti program yang sama. “Besuk mulai 3 September sampai 17 Oktober teman-teman dari Indonesia akan tebang kesana,” pungkasnya. (C-1)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
18 Peserta Ikuti UPA APSI

  SLEMAN (MERAPI)- Sebanyak 18 peserta mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA) di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Close