MENJADI MATAHARI – Album Anyar Sirkus Barock

MERAPI-SWADESTA ARYA WASESA Sawung Jabo dan Sirkus Barock masih menggigit.
MERAPI-SWADESTA ARYA WASESA
Sawung Jabo dan Sirkus Barock masih menggigit.

ALBUM ’25 Musim’ yang dirilis 2015 lalu dianggap dentuman nostalgia paling berbahaya dari Sawung Jabo dan Sirkus Barock. Album itu berisi lagu-lagu sepanjang hayat Jabo dan Sirkus Barock. Jula Juli Anak Negeri, Di Hatimu Aku Berlindung, Penari Goyang, atau Dongeng Politik menjadi senjata ampuh yang mampu mengingatkan kembali kedigdayaan musikalitas Sirkus Barock.

Permainan riff gitar rumit namun nyaman didengar dengan lirik-lirik khas Sawung Jabo: mendinginkan namun bisa jadi api yang membakar.

Belum habis rasa kekaguman atas album itu, April 2018 ini, Sirkus Barock yang kini diisi Sawung Jabo, Joel Tampeng (lead gitar), Bagus Mazzasupa (Kibor), Sinung Garjito (Bass), Denny Dumbo (Perkusi), Ucok Hutabarat (Biola), dan Endy Barqah (Drum) kembali merilis album bertajuk ‘Menjadi Matahari’. Lagu-lagu di album baru ini sebagian besar belum pernah direkam dan bisa dibilang merupakan cikal bakal Sirkus Barock yang kini melebur bersama Sawung Jabo.

“Pembuatan album ini lebih menyenangkan daripada yang ’25 Musim’. Album sebelumnya itu dibuat di Studio jadi kontemplasi dan kebebasannya tidak seperti yang ada di album ini. Saya lebih banyak diam lalu pasrah sama teman-teman untuk instrumentasinya,” beber Sawung Jabo ketika ngobrol santai di studio DF Music Yogyakarta belum lama ini.

Bagus Mazzasupa membenarkan Sawung Jabo. Saat membuat instrumen berbekal lirik-lirik dari sosok besar di balik Swami, Kantatam dan BalladNa itu mereka diberi kebebasan dalam mengatur sound hingga notasi. Bagus bahkan memberanikan diri menggunakan metronom yang bisa diatur seenak hati pada Sawung Jabo. “Terus Mas Sawung Jabo setuju saja. Jadi memang leboh enjoy membuat album ini, kami mengatur mentronom di lagu-lagu tertentu, tidak landai terus. Jadi tempo yang diatur komputer manut sama kami,” sambung Bagus.

Tak hanya ngobrol santai, Sirkus Barock juga menggelar pertunjukkan ekslusif pada jurnalis musik dan Music Director sejumlah radio di DF Music. Mereka membawakan tiga lagu dalam ‘Menjadi Matahari’ yaitu Berlari, Mimpi Buruk Mungkin Saja Terjadi, dan Menjadi Matahari. Saat hendak menyudahi pertunjukkan ekslusif itu, sejumlah penonton minta Sirkus Barock membawakan lagu lawas “Hio”. Sawung Jabo pun kembali memangku gitarnya lalu memberi aba-aba untuk memainkan ‘Hio’.

“Lagu-lagu yang kami mainkan tadi, meski dibuat tahun 70-an masih relevan sampai sekarang. Misalnya saja ‘Mimpi Buruk Bisa Saja Terjadi’, itu benar lho ternyata. Sekarang banyak sekali komunikasi sosial yang tidak sehat kan, saling benci, curiga antarsesama dan lain-lain. Itu mimpi buruk yang eh ternyata bisa terjadi. Untuk lagu lainnya bisa nonton di konser album di TBY 12 April 2018 nanti,” kata Sinung usai pertunjukkan.

Di album ini Sirkus Barock menggandeng DF Music berkolaborasi dalam penjualan di ranah digital. DF sendiri merupakan label yang memberi dukungan kreatif proses album dengan bekerjasama dalam koridor pertemanan yang mengasyikan. DF adalah kepanjangan dari dua inisiator label: Dalin dan Felix, di mana keduanya bukan orang baru dalam industri musik di Indonesia. Inilah alasan mengapa Sirkus Barock mempercayakan distribusi album di tangan DF Music yang bakal mengembalikan kejayaan poros musik Yogyakarta. (Des)

Read previous post:
MERAPI-AMIN KUNTARI Jumpa pers di Mapolres Kulonprogo ungkap kasus pencurian cengkeh.
FOTOGRAFER KELILING DITANGKAP-Bokek, Nyuri 40 Kg Cengkeh

SAMIGALUH (MERAPI) -  Pernah dibui gara-gara mencuri, tak lantas membuat IFR (20) warga Kecamatan Samigaluh, Kulonprpgo jera. Dengan alasan tak

Close