Rast dan Redemption Song – Cerpen Ruly R

PADA Minggu pertama di bulan Februari, tepatnya tanggal enam, Rast bertemu dengan seorang lelaki. Mereka melakukan hal yang sama, sama-sama berkunjung ke balai kota untuk menyaksikan acara pameran barang antik.
Satu hal yang menarik perhatian Rast adalah sebuah radio. Tertulis 11 Mei 1981 di kotak radio itu. Tahun yang sudah sangat lampau bagi Rast, namun tentu saja memaklumi hal itu. Bagaimanapun ini memang pameran barang antik. Tak heran barang-barang yang ada di sini tampak lampau, hal itu pun sudah sewajarnya. Bukan hanya tanggal yang tertera di kotak radio itu, tapi juga sebuah tanda tangan. Tanda tangan itu tampak indah bagi Rast.

Pada lengkungan tanda tangan seakan mempunyai kesan yang tak biasa. Meski terkesan digores dengan malas namun begitu punya nilai artistik yang tinggi. Bobo Marlayi nama yang tertera di bawah tanda tangan itu. Mata Rast terus memusat pada radio itu, terlebih tanda tangan tersebut. Ada keinginan dalam hatinya untuk menyentuh barang itu namun seketika ia sadar begitu melihat tulisan yang terpampang di atas radio itu. Tidak boleh menyentuh barang secara langsung.

“Menarik, bukan?” Tiba-tiba dari sebelah Rast suara seorang laki-laki terdengar.

Rast menoleh dan mengarahkan pandangannya pada lelaki itu.

“Apanya?” tanya Rast. Dilihat olehnya lelaki itu terus menatap tajam radio yang juga dilihatnya.

“Radionya.” Jari lelaki itu menunjuk. Matanya masih lekat menatap benda itu.

“Kupikir juga begitu. Tapi menurutku ada yang lebih menarik.”

“Tanda tangannya, bukan?”

“Nah itu.”

“Tanda tangan itu sebenarnya replika dari pemilik aslinya. Pemiliknya Bobo Marlayi yang kudengar sebelum ia terkenal dan meninggal. Sebenarnya radio itu tidak disertakan dalam acara ini, tapi karena ada seseorang yang bersikukuh untuk menyertakan radio itu akhirnya panitia menyetujuinya. Toh, tema acara yang diusung masih sama, yaitu identitas musik,” jawab lelaki itu tanpa menoleh sedikit pun pada Rast.

“Bagaimana kau tahu?”

Kali ini lelaki itu menoleh. Ada bopeng di bagian pipi kirinya, hidungnya sedikit besar seperti buah terong premature, kantung matanya tebal dan bibirnya hitam, mungkin karena seringnya merokok. Dia mengenakan kemeja berwarna biru yang dua kancing atas kemeja itu tak menemu lubangnya.

“Namamu Rast, bukan?”

“Benar. Tapi maaf bagaimana kau tahu namaku?”

Lelaki itu tak menjawab.

“Di antara benda yang ada di pameran ini, kupikir radio milik Bobo Marlayi ini yang paling melambangkan sebuah identitas musik. Ya setidaknya musik yang ditawarkannya mempunyai ciri yang membuat kita yang mendengarnya merasa sedikit terbebas dari beban sehari-hari. Radio ini penting karena menjadi penghubung dalam Bobo Marlayi menciptakan jenis musiknya.”

“Maaf, kupikir jenis musik apapun sama. Maksudku setiap musik membebaskan bagi yang mendengarkan dan merasakannya.”

“Ya, asal penciptanya menuangkan jiwanya di musik itu.”

“Aku setuju denganmu,” jawab Rast singkat.

“Kau suka dengan jenis musik ciptaan Bobo Marlayi? Maaf aku hanya menebak saja, setidaknya dari penampilanmu kau tampak akrab sebagai pengagum Bobo Marlayi. Jika tidak pun bukan soal, toh penampilan tidak lantas menjadi identitas genre sebuah musik.”

Lelaki itu berhenti bicara, sesaat memberi jeda, sebelum dia melanjutkan, “Bagiku yang terpenting dalam musik itu jiwa, bukan modisnya. Mungkin bisa saja penampilan diidentikkan dengan jenis musik tertentu, tapi bagiku itu bukan menjadi keharusan. Bukan menjadi sesuatu yang mutlak. Yang terpenting, seperti yang kukatakan tadi, musik haruslah membebaskan, itu menurutku. Setidaknya penampilan tidak menjadi patron. Jika penampilan harus diidentikkan dengan jenis musik kita akan terkungkung pada politik identitas semata.”

Sedikit demi sedikit Rast coba mencerna kata yang keluar dari mulut lelaki itu, meski Rast sedikit sulit mencerna semua ucapannya.

“Kau banyak tahu tentang Bobo Marlayi. Luar biasa. Tapi maaf kau belum menjawab pertanyaanku. Dari mana kau tahu namaku?”

Lelaki itu diam. Sama seperti tadi ketika Rast melempar pertanyaan tadi.

“Rast!” Tiba-tiba ada sebuah panggilan dari atas panggung. Ternyata itu suara seorang vokalis. Rast menoleh, lelaki itu juga mengarahkan matanya ke atas panggung. Rast tidak merasa mengenal vokalis itu tapi berbeda dengan lelaki di sampingnya.

“Hurip,” kata lelaki yang berdiri di samping Rast sembari melambaikan tangan. Si vokalis tersenyum sembari mengajaknya untuk naik ke atas panggung.

Rast? Namanya sama denganku, batin Rast. Tapi Rast seketika menyadari bahwa mungkin nama lelaki itu sama dengannya dan itu bukan hal yang mengherankan. Karena banyak nama yang juga sama di dunia ini.
Telepon Rast tiba-tiba berdering. Tanda sebuah panggilan masuk. Di layar ponselnya tertera nama dr. Fara. Seketika Rast ingat dia ada janji dengan dokter itu. Tanpa berpikir panjang Rast langsung meninggalkan tempat pameran.

Ketika dia hendak sampai pada pintu keluar balai kota, sebuah lagu yang mengalun indah sayup didengarnya.

Redemption song // This song of freedom // Redemption song

Sejenak Rast tertegun, dia merasa akrab dengan lagu itu tapi tak tahu lagu itu berjudul apa dan siapa penyanyinya. Ketika Rast memutar pandang dan melihat panggung, lelaki itu dan juga vokalis bernama Hurip sudah tidak ada di atas panggung.

Rast melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir mobil. Di tengah perjalanannya ke dia melihat sebuah poster bergambar seorang lelaki yang berambut gimbal dan berkulit legam tampak menghisap entah rokok atau apa dengan nikmat. Ketika Rast melihat poster itu, dia merasa tubuhnya terbang ke awan yang gelap. Bulan dan bintang-bintang bisa ia pegang. Di atas awan, Rast melihat wajah dr. Fara-psikolog yang akrab dengannya. Dokter itu tampak melempar senyum pada Rast. Membicarakan perihal kesehatan dan psikis Rast yang kian lama kian memburuk.

“Skizofrenia,” lirih dokter Fara mengatakan hal itu. Tapi ucapannya tak dilanjutkan. Justru dokter itu menyanyikan lagu favorit Rast. Tapi yang dirasakan Rast semuanya tiba-tiba hitam, tiba-tiba gelap dan gelap.

***

Dari luar kamarnya, Rast mendengar sebuah alunan lagu yang merdu dan akrab di telinga. Ia beranjak dari baringnya dan bergegas menuju kamar mandi. Bersiul merdu dalam nada yang sepertinya searah dengan lagu favoritnya. Dia merasa bebas hari ini. Tidak seperti hari-hari biasanya, setidaknya ini hari yang spesial baginya. Hari ini ulang tahunnya. Dan Rast bersyukur hari ini dia free dan memutuskan untuk melihat pameran barang antik di balai kota.
Selesai mandi dia bercermin. Dia mengelus pipi kirinya yang sedikit bopeng. Tangannya menyentuh hidungnya sendiri yang bagai terong prematur. Di cermin, dilihat bibirnya yang menghitam karena kebanyakan merokok. Rast mengambil kemejanya yang berwarna biru dan tidak mengancingkan dua kancing bagian atas kemeja yang dikenakannya. Tanpa menunggu waktu lama, dia tancap gas menuju tempat pameran itu.

Begitu sampai di balai kota dia langsung menuju tempat radio Bobo Marlayi. Di depan radio itu dilihatnya seorang lelaki yang terus menerus menatap radio itu.

“Menarik, bukan?” tanya Rast pada lelaki itu.

Lelaki itu menoleh dan mengarahkan pandangannya pada Rast yang ada di sebelahnya. “Apanya?” tanya lelaki itu.

Dilihat olehnya Rast yang terus menatap tajam radio yang juga dilihatnya.

“Radionya,” sahut Rast sembari jarinya menunjuk benda itu. Mata Rast menatap radio itu.

“Kupikir juga begitu. Tapi menurutku ada yang lebih menarik.”

“Tanda tangannya bukan?”

“Nah itu.”

“Tanda tangan itu sebenarnya replika dari pemilik aslinya. Radio itu milik Bobo Marlayi yang sering didengarnya sebelum ia terkenal dan meninggal. Sebenarnya radio itu tidak disertakan dalam acara ini. Tapi karena ada seseorang yang bersikukuh agar menyertakan radio itu akhirnya panitia menyetujuinya. Toh, tema acara yang diusung masih sama, yaitu identitas musik,” jawab Rast tanpa menoleh sedikit pun pada lelaki itu.

“Bagaimana kau tahu?”

Kali ini Rast menoleh. Dia dengan jelas melihat wajah lelaki itu. Tentu Rast mengenal wajah lelaki itu, “Namamu Rast bukan?”

“Benar. Tapi maaf, bagaimana kau tahu namaku?” tanya lelaki itu.

Rast tak menjawab.

Ruly Riantiarno. Tergabung dan aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning. Bisa dihubungi lewat riantiarnoruly@gmail.com

Read previous post:
Daun dan buah maja berkhasiat obat
Maja Bantu Lawan Hipertensi

TANAMAN buah maja biasa dikaitkan dengan sejarah kerajaan Majapahit.  Pasalnya, banyak sumber menyebutkan tanaman ini memang banyak berasal dari kawasan bekas

Close