20 Tahun Shaggydog, Sayidan, dan Cinta

Shaggydog rayakan ulang tahunya dengan potong tumpeng.Foto: Swadesta Aria Wasesa
Shaggydog rayakan ulang tahunya dengan potong tumpeng. Foto: Swadesta Aria Wasesa

GILA. Banyak yang berpikir demikian ketika sebuah band dari gang gelap di Sayidan: Shaggydog muncul ke permukaan dengan lagu-lagu SKA. Tahun 90-an akhir, tepatnya 1997, industri musik Indonesia dikuasi para jagoan alternatif. Dua tahun kemudian, saat album pertama Lilik (Kibor), Bandizt (Bass), duo gitar Raymond-Richard, Yoyok (Drum), dan Heruwa (vokal) muncul, pandangan itu berangsur hilang.

Album bertajuk “Shaggydog” yang rilis di bawah Doggy House menyebar cepat ke telinga pendengar musik di Yogya dan tanah Jawa. Album itu seperti bakteri baik dalam tiap fermentasi yang menyehatkan. Mereka yang mendengarkan lagu-lagu Shaggydog pasti sehat. Namun, lagu-lagu mereka menyiksa tatkala dinikmati duduk: Tak ada tubuh yang mampu menolak goyang ketika beat Ska bercampur Reggae dan Rock itu meruang.

Dua tahun berselang album kedua “Bersama” muncul. Pelan tapi pasti, anak-anak muda Sayidan itu mampu menerabas pakem musik pop tanah air. Musik mereka menjadi populer di seluruh Indonesia. Buktinya bisa dilacak pada konser sederhana di UPN tahun 2003. Puluhan ribu Doggies (sebutan fans Shaggydog) membanjiri UPN lalu berdansa sampai puncak. Di tahun yang sama, nama Shaggydog mulai merambah Asia (Jepang) dan Ceko. Sesuatu yang sangat sulit dilakukan oleh band Indonesia saat itu karena internet belum secanggih sekarang.

Para musisi rendah hati ini kembali bikin gempar pada 2006 karena diundang Festival Mundial Production untuk menggelar konser tunggal di 11 kota Belanda. Hebatnya, mereka menerima undangan itu setelah menelurkan album keempat yang diproduseri sendiri. Tak ada campur tangan orang lain di musik mereka. Dari sana Shaggydog sering diundang manggung di Asia, Eropa dan Amerika.

Catatan prestasi mengagumkan itu–setidaknya yang diingat oleh mereka–sah membuat Shaggydog dilabeli menjadi Super Band. Sah juga kalau mereka pindah ke Ibu Kota agar akses internasional lebih mudah. Tapi, Shaggydog ada bukan untuk diri mereka sendiri. Shaggydog ada untuk Yogyakarta. Laiknya simbol dan sifat di Yogya, mereka adalah harta karun Yogyakarta yang tak ternilai.

“Teman-teman datang dan pergi. Ada yang sudah berkeluarga, punya anak, atau menetap di kota lain. Kami ya begini-begini saja. Masih di rumah yang sama, nonkrong sama-sama, main sama-sama. Tidak ada yang berubah dari awal terbentuk sampai sekarang. Kami selalu kangen Yogya kalau bepergian ke mana gitu karena di manapun kami selalu membawa nama Yogya,” kisah Heruwa.

Super Band yang enggan menjauhkan Yogya dalam benak mereka itu Juni lalu berusia 20 tahun. Usia agresif, kata rekan Shaggydog, Ari Wulu yang menyampaikannya langsung di depan Shaggydog saat acara tumpengan beberapa waktu lalu. Pandangan itu direspon tawa hangat. Bukti lagi kedekatan mereka dengan teman-teman yang sudah dua dekade lebih bersama-sama mereka. 20 tahun berarti Shaggydog punya pendengar yang berbeda-beda. Namun mereka tak pernah membedakan bahkan mengotakkan pendengar. Bagi Shaggydog tidak ada istilahnya pendengar baru dan lama. Semuanya teman. Usia tidak boleh jadi penghalang kedekatan mereka.

Kedekatan Shaggydog dengan teman dan fans itu pula yang membuat mereka memutuskan menggelar konser pada 13 Desember 2017 nanti di Liquid Cafe dengan tema “Bersinar Bersama”.”Artinya di usia 20 tahun ini, kami ingin mengajak semuanya bersenang-senang lalu sukses bersama. Bersama banyak teman, ada Jerinx (SID), NDX, dan satu guest star yang belum bisa kami kasih tahu saat ini kami mau mempersembahkan sajian khusus di depan teman-teman semua. Mereka pun demikian dengan membawakan lagu Shaggydog yang diaransemen ulang. Paling penting lagi kami juga buka donasi untuk mereka yang terkena dampak bencana alam. Pokoknya saling berbagi,” sambung Heru.

Tiap band pasti ingat kali pertama bertemu lalu memutuskan membuat musik komunal dari tiap kepala. Bandizt ingat betul kali pertama pertemuan di Sayidan itu. Awalnya Shaggydog terbentuk hanya untuk rewo-rewo alias senang-senang. Tapi lama-lama bersama kelima rekannya, Bandizt jatuh cinta dengan Shaggydog. Kelimanya juga merasakan hal sama. Sejauh apapun pencarian musik masing-masing personel, Shaggydog tetap utama bagi keenamnya.

“Kami tahu bahwa Shaggydog bukan lagi sebuah band. Shaggydog adalah rumah kami. Tempat kami berbagi semuanya dengan cara khas Yogya. Awalnya masih betul, dibentuk cuma buat rewo-rewo. 20 tahun band-bandan,” katanya seolah masih tak percaya usia Shaggydog sudah sepanjang itu.(Des)

Read previous post:
Siswa SD N Banasara kerja bakti bersih-bersih sekolah pascabanjir
BANJIR RENDAM RATUSAN HEKTARE TANAMAN PADI – Petani Gagal Panen Ditanggung Asuransi

GALUR (MERAPI) - Tanaman padi di wilayah Kulonprogo dengan luas sekitar 608 hektare dipastikan gagal panen setelah terendam banjir akibat

Close