USUNG TEMA POST TRUTH – Festival Film Dokumenter 2017 Digelar

Panitia lomba saat gelar jumpa pers
Panitia lomba saat gelar jumpa pers

FESTIVAL Film Dokumenter (FFD) 2017 akan dihelat 9-15 Desember mendatang. Mengusung tema Post Truth, tahun ini menjadi edisi ke-16 festival tahunan tersebut. Total 152 film dokumentar yang terbagi menjadi tiga kategori, yakni dokumenter panjang, dokumenter pendek dan dokumenter pelajar telah masuk penjurian. Melanjutkan sukses tahun lalu, film dokumenter panjang dibuka dalam rentang internasional.

Direktur FFD, Alia Damaihati mengatakan, semua orang kini telah memiliki medianya sendiri. Hal tersebut menjadikan perubahan yang signifikan terhadap nilai-nilai kebenaran. Kebenaran tidak lagi tentang apa yang terjadi lapangan, melaikan segala sesuatu yang sesuai dengan persepsi masing-masing. Menurut Alia, fenomena tersebut yang mendorong FFD 2017 mengusung tema Post Truth.

“Sebagai salah satu medium penyampai pesan, dokumenter turut menjalankan perannya dalam membangun persepsi dan kebenaran alternatif. Polarisasi politik terkait pemilihan kepala daerah menjadi latar belakang yang kuat untuk mengusung Post Truth. Post Truth sendiri adalah ketika fakta obyektif kurang bisa membentuk opini publik, melainkan mengedepankan emosi dan keyakinan personal,” jelasnya saat konfrensi pers di Institut Français Indonesia-Lembaga Indonesia Prancis (IFI-LIP), Yogyakarta, Kamis (23/11).

Sementara itu, Manager Festival, Anggi mengatakan, FFD 2017 akan diselengarakan tanggal 9-15 Desember di tiga tempat, yakni Taman Budaya Yogyakarta (TBY), IFI-LIP Yogyakarta dan Villa Sambal. FFD kali ini dibagi dalam empat agenda utama, antara lain kompetesi, pemutaran utama, parsial dan lokakarya film kritik. Untuk agenda pemutaran dibagi ke dalam lima program, yaitu perspektif, spektrum, eksperimentasi ingatan, musik dokumenter dan program spesial 5 Pulau / 5 desa.

“Perspektif merupakan program utama non kompetisi yang mengacu pada tema festival. Tahun ini, wacana Post Truth dihidupkan melalui beberapa film pilihan, seperti The Village Bid of UFO (Jepang), Watching the Detektive (Kanada), German Youth (Jerman). Selain itu, program ini juga akan direspon dengan sesi diskusi terkait posisi dokumenter di era <I>Post Truth<P> bersama seorang peneliti media, Roy Thaniago,” bebernya.

Selain itu, FFD 2017 juga akan menghadirkan program khusus pemutaran perdana dan diskusi proyek 5 Pulau /5 Desa. Program tersebut merupakan hasil kerja sama antara FFD dengan Goethe Institut Indonesia. FFD akan menggelar pemutaran perdana karya pembuat film Indonesia yang dikirim ke lima desa di Jerman selama kurang lebih tiga minggu sebagai bagian akhir proyek tersebut.

FFD 2017 ini juga akan menghadirkan lokakarya kritik film sebagai agenda edukasi. Setelah 15 tahun menyajikan dan menyaksisan ribuan karya dokumenter, tahun ini FFD bermaksud menggerakkan penonton untuk merespon film dokumenter. “Program hasil kerjasama FFD dengan Cinema Poetica ini diharapkan dapat meramaikan ranah kritik film serta mengembangkan iklim dokumenter yang sehat. Lokakarya akan diadakan secara intensif selama 5 hari, 10-14 Desember,” kata Anggi. (C-2)

Read previous post:
Tersangka saat diamankan di Polres Sleman
Berlagak Tanya Alamat, Gasak Dompet dan HP

SLEMAN (MERAPI) - Satreskrim Polres Sleman berhasil menangkap DW (32), tersangka pencurian dengan modus bertanya alamat kepada korban yang keadaan

Close