Festival Padhang Mbulan Segarkan Ingatan Aktivitas Amos

Festival Padhang Mbulan Segarkan Ingatan Aktivitas Amos
Salah satu kelompok perwakilan kecamatan unjuk kebolehan dalam festival.

SUASANA panen raya para petani di pedesaan yang khas dengan bunyi gejogan lesungnya, belum lama ini tergambar di Alun-Alun Wates, Kulonprogo. Namun dalam festival ini, suara yang terdengar bukan merupakan aktivitas amos atau menumbuk padi sesungguhnya, melainkan suguhan irama musik nan indah yang dihasilkan kelompok seni perwakilan 12 kecamatan se-Kulonprogo dalam menggejog lesung sebagai peserta Festival Padhang Mbulan yang digelar Dinas Kebudayaan Kulonprogo.

Tampil sebagai peserta utama, yakni Kelompok Madu Sworo dari Kecamatan Pengasih. Membawa lesung sendiri, mereka menyajikan tiga lagu indah yang menghibur hadirin yakni Lesung Jumengglung, Lir-ilir dan Konco Tani. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo, masing-masing kelompok memang diminta membawakan tiga lagu yakni lagu wajib, lagu pilihan dan lagu bebas.

“Lagu wajibnya Lesung Jumengglung, lagu pilihannya yakni Lir-ilir, Prau Layar, Caping Gunung dan Empat Lima, sementara pemilihan lagu bebas dikembalikan ke peserta,” katanya di sela festival.

Penyelenggaran Festival Padhang Mbulan ini, menurut Untung sengaja diselenggarakan untuk mengingatkan kembali masyarakat Kulonprogo terutama petani akan suasana panen raya. Pada zaman dahulu, untuk mendapatkan pangan masyarakat desa harus menumbuk padi menggunakan lesung terlebih dahulu atau disebut dengan amos. Seiring berjalannya waktu, lesung yang semula merupakan alat menumbuk padi kemudian difungsikan sebagai alat musik.

“Tapi niat utama kami adalah membangun gotong-royong karena setiap orang yang mau mendapat pangan harus menumbuk padi secara bersama-sama,” jelasnya.
Untung mengklaim, antusiasme masyakat dalam mengikuti festival terbilang tinggi. Seluruh kecamatan yang ada di Kulonprogo mengirimkan perwakilan kelompok, masing-masing terdiri dari20 orang. Mereka kemudian diberikan waktu 15-20 menit untuk tampil membawakan tiga lagu.

“Kami berharap, ke depan gejog lesung bisa tampil dalam upacara adat di masing-masing desa, sehingga kreativitas dan inovasi seni tradisi bisa sejajar dengan seni modern,” ulasnya.
Salah satu peserta dari Kelompok Anom Sari, Kecamatan Panjatan, Elizabeth Wuri Lestari merasa bangga bisa mewakili daerahnya menjadi peserta festival. Sebagai upaya persiapan, kelompoknya menggelar latihan setiap pekan.

“Mudah-mudahan penyelenggaraan festival ini akan berdampak positif, yakni kemajuan kelompok seni gejog lesung. Kami juga berharap ada regenerasi dalam kelompok sehingga saat tampil, anggotanya bisa bergantian, tidak hanya yang itu-itu saja,” pngkasnya. (Unt)

Read previous post:
Kisah Lain Kembang Wijayakusuma Diburu Orang Besar
Kisah Lain Kembang Wijayakusuma Diburu Orang Besar

DI Jawa ada kepercayaan bahwa raja Mataram yang baru dinobatkan, tidak akan sah diakui dunia 'kasar' dan 'halus' sebelum berhasil

Close