DIDUGA IKUT ALIRAN SESAT-Desersi, Oknum Pamen TNI AL Ditangkap

 

Anggota Pom AL saat hendak menangkap oknum pamen.
Anggota Pom AL saat hendak menangkap oknum pamen. (Merapi-Sukaryono)

SEMARANG (MERAPI)- Seorang oknum perwira menengah (pamen) TNI AL yang meninggalkan tugas atau desersi ditangkap dalam suatu penggerebekan di rumah yang dijadikan tempat pemujaan aliran sesat di Palebon, Pedurungan Semarang.

Selain Letkol (laut) Nur, menurut keterangan, Jumat(16/2), dua hari setelah penggerebekan, juga terjaring 42 orang lainnya dari 11 kepala keluarga, termasuk istri dan anak pamen itu, juga pemilik rumah Rondiono alias Andi.

Letkol laut Nur sebelum diboyong ke daerah tugas Surabaya oleh Pomal Lantamal V Surabaya terlebih dulu digiring ke kantor Kantor Pomal Semarang, Jalan Raya Kaligarang. Letkol Nur ke Semarang bersama istri dan anaknya.

Sedangkan puluhan orang lain, termasuk pemilik rumah Rondiono alias Andi, yang juga pemilik bengkel mobil yang sudah tidak operasional digiring ke Mapolsek Pedurungan Semarang.

“Jumlah mereka saat digerebek 43 orang dari 11 kepala keluarga, termasuk keluarga oknum tersebut. Mereka siang hari tidak melakukan kegiatan, tidak kerja, anak-anak tidak sekolah. Kegiatannya malam hari di dalam rumah,” ungkap Kapolsek Pedurungan, Kompol Mulyadi.

Aktivitas yang diduga menyimpang dalam rumah yang cukup luas, memang tidak kelihatan dari luar. Bahkan, anggota polisi militer Angkatan Laut sebelum dibukakan pintu dari dalam telah mencoba masuk dengan jalan memanjat dinding tembok rumah yang cukup tinggi.

Petugas Polsek dan Camat Pedurungan yang datang mengecek menjumpai 43 orang dari 11 kepala keluarga. Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak dan bayi pun ada. Mereka melakukan kegiatan menyimpang yang diperkirakan berlangsung sudah tiga bulan.

“Ya..sekitar 3 bulan aktivitasnya tertutup, kita juga bertanya-tanya,” ungkap Syafi’i pengurus RT setempat ketika ditemui di sekitar lokasi penggerebekan.

Lebih lanjut dikatakan Kapolsek Kompol Mulyadi, kegiatan mereka malam hari. Yang lelaki memakai sarung dan wanita memakai kain jarik. Mereka tidak menyalakan lampu, tapi menggunakan lampu minyak.
“Laki-laki dan perempuan dikumpulkan, ada istilahnya tapa rame (bertapa bersama),” jelas Kapolsek Mulyadi. (Sky)

Read previous post:
Korban Pencabulan Kakek

  APA yang bisa diperbuat dari seorang kakek , Sudi Raharjo (71), warga Srandakan Bantul ini ? Di usianya yang

Close