• Rabu, 19 Januari 2022

Imbau Maafkan Aksi Tendang Sesajen Hadfana Firdaus, Rektor UIN Jogja: Banyak Kasus Intoleran Tak Diproses

- Sabtu, 15 Januari 2022 | 11:29 WIB
Hadfana Firdaus (topi hitam) usai tertangkap di Bantul. Rektor UIN Jogja mengimbau Hadfana dimaafkan. (Foto: Twitter/Polres Bojonegoro)
Hadfana Firdaus (topi hitam) usai tertangkap di Bantul. Rektor UIN Jogja mengimbau Hadfana dimaafkan. (Foto: Twitter/Polres Bojonegoro)

JOGJA,harianmerapi.com- Pria tendang sesajen Gunung Semeru, Hadfana Firdaus diketahui pernah kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogja. Rektor UIN Jogja pun meminta kasus ini dihentikan dan Hadfana Firdaus dimaafkan. Dia menyebut banyak kasus intoleran lain yang tak sampai proses hukum.

Hadfana Firdaus diketahui masih ditahan di Polda Jawa Timur. Aksinya meneendang sesajen Gunung Semeru karena dianggap musrik itu menyeretnya dengan jeratan Pasal 156 KUHP, tentang Permusuhan, Kebencian, atau Penghinaan terhadap Suatu atau Beberapa Golongan Rakyat Indonesia.

Hadfana Firdaus diketahui pernah kuliah di UIN Jogja dengan jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyyah angkatan tahun 2008.

Baca Juga: Hadfana Firdaus Pelaku Tendang Sesajen di Semeru Pernah Tinggal di Tempat Ini dan Dikenal Jarang Bergaul

Dia hanya kuliah beberapa semester sebelum akhirnya drop out karena tak bayar uang kuliah. Usai kasusnya viral dan berujung penangkapan oleh polisi, Rektor Universitas Islam Negeri  atau UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Al Makin pun angkat suara.

Dia meminta kasus hukum Hadfana Firdaus dihentikan. Apalagi yang bersangkutan juga sudah minta maaf.

"Saya menyerukan agar segera proses hukum ini sebaiknya dihentikan dan sebaiknya kita maafkan," kata Al Makin saat konferensi pers di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jumat (14/1/2022) seperti dilansir harianmerapi.com dari Antara.

Baca Juga: Profil Hadfana Firdaus Pelaku Tendang Sesajen di Semeru, Asal NTB Sempat Pindah Penduduk di Banguntapan Bantul

Menurut Al Makin, dibandingkan kasus yang menjerat Hadfana Firdaus, banyak pelanggaran lain yang lebih berat terkait dengan kaum minoritas namun tidak masuk ke ranah hukum.

"Banyak sekali kasus yang lebih berat. Saya sendiri punya datanya yang lengkap, pelanggaran rumah ibadah, pelanggaran kepada minoritas, pembakaran, tidak semuanya masuk ranah hukum," ucap dia.

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sukabumi dan Sekitarnya Diguncang Gempa Magnitudo 5,4

Senin, 17 Januari 2022 | 08:50 WIB
X