• Jumat, 12 Agustus 2022

2 Calon TKI Wadul Polda DIY, Sudah Setor Rp 35 Juta Tapi Gagal Berangkat ke Jepang, Berharap Uang Kembali

- Selasa, 30 November 2021 | 21:20 WIB
Penasehat hukum terlapor saat menunjukkan bukti laporan korban ke Polda DIY. (FOTO: SAMENTO SIHONO)
Penasehat hukum terlapor saat menunjukkan bukti laporan korban ke Polda DIY. (FOTO: SAMENTO SIHONO)

JOGJA,harianmerapi.com-Dua orang calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) melaporkan FX, bos Lembaga Pelatihan Kerja yang berada di Kadisobo, Sleman ke Polda DIY. Kedua korban mengaku tak diberangkatkan ke Jepang meski sudah membayar uang.

Akibat kejadian itu korban Wisnu Dwi Nugroho warga Girikerto Turi Sleman dan Sumedi warga Jetis Bantul, mengalami kerugian hingga Rp 70 juta. Keduanya berharap uang itu bisa dikembalikan oleh terlapor.

"Setiap orang dimintai Rp 35 juta untuk pengurusan ijazah. Tapi sampai batas waktu yang dijanjikan korban tidak juga diberangkatkan ke Jepang," ujar penasehat hukum pelapor dari Kantor Hukum DLN dan Patners, M Slamet Jupri SH, didampingi Dion Leonardo KS SH dan Finarto SH, Selasa (30/11/2021).

Baca Juga: Mahasiswa di Solo Kena Tipu, Pajero Sport Seharga Rp 364 Juta Dibawa Kabur Pencuri

Dikatakan, kasus itu berawal saat kedua korban berniat pergi ke Jepang pada tahun 2018, melalui LPK terlapor. Pasalnya, sebelumnya kedua korban ini pernah bekerja di Jepang. Kemudian ingin bekerja kembali ke Jepang.

Kemudian kedua korban mendatangi LPK itu. FX kemudian meminta uang Rp 35 juta, terhadap masing-masing korban, untuk mengurus syarat agar diberangkatkan ke Jepang. "Menurut terlapor, kalau syarat itu tidak dipenuhi makan tidak bisa berangkat ke Jepang. Alasanya uang itu untuk mengurus ijazah S1," kata Jupri.

Tanpa menaruh curiga, pelapor ini menuruti permintaan terlapor. Beberapa bulan kemudian, terlapor menyerahkan ijazah dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Tulus Cendikia di Bandung, ke korban.

Baca Juga: Begini Cara Anak Penyanyi Kondang Tipu 225 Orang dan Raup Uang Rp 9,7 Miliar

"Ijazah sudah diberikan namun kedua korban ini tidak diberangkatkan oleh terlapor," jelasnya. Merasa janggal dengan hal itu, kedua korban berusaha menanyakan kepada terlapor soal pemberangkatan ke Jepang namun tidak ada kepastian. Bahkan terlapor ini selalu berbelit-belit, dan selalu beralasan.

"Alasanya tidak diberangkatkan tidak jelas. Terlapor ini selalu berbelit-belit, ketika ditanya oleh korban," ucapnya.

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X