ANTISIPASI KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK – Pemkab Sleman Bentuk Puspaga

Puji Astuti menyampaikan materi seputar Puspaga
Puji Astuti menyampaikan materi seputar Puspaga

SLEMAN (MERAPI) – Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya menekan angka kekerasan pada perempuan dan anak. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) pada tahun 2017 terdapat 54 kasus kekerasan anak yang mencapai ke ranah hukum. Dari keseluruhan angka tersebut 10 kasus telah diproses hingga ke Polres Sleman.

“Yang menjadi korban ada 43 kasus yang menjadi pelaku ada 11 kasus,” ujar Kepala P3AP2KB Mafilindati Nuraini pada Sosialisasi Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Jumat (19/1).

Selain kasus kekerasan pada anak, data terkait korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Sleman yang mencapai 298 orang dan korban kekerasan bukan KDRT sebanyak 173 orang. Dibanding total penduduk Sleman, kasus kekerasan yang ada di Sleman ini terbilang tidak banyak.

“Walaupun angkanya sedikit, tetapi satu kasus itu patut kita prihatinkan karena satu kasus di media massa seolah-olah sudah membunuh karakter Kabupaten Sleman. Ini menjadi tantangan untuk kita semua bagaimana angka kekerasan ini dapat ditekan,” tutur Linda.

Diakui, berbagai pihak termasuk psikolog dari Puskesmas telah berupaya menekan angka kekerasan pada anak dan perempuan akan tetapi tidak cukup. Karenanya, Pemkab Sleman membentuk Puspaga yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan menuju keluarga sejahtera melalui peningkatan kapasitas orang tua.

“Kami di Dinas P3AP2KB akan memberikan pelayanan melalui Puspaga kalau ada keluarga atau sasaran yang memerlukan konsultasi,” kata Linda.

Sekretaris Dinas P3AP2KB Puji Astuti menambahkan, Puspaga juga merupakan langkah antisipasi untuk mencegah kasus kekerasan. Tugas pencegahan ini diampu oleh dua psikolog yang siap memberikan layanan aktif dan pasif. Tak hanya itu, Puspaga pun melakukan kegiatan konsultasi pengasuhan.

Melalui Puspaga, lanjut Puji, Dinas P3AP2KB menyediakan layanan inovasi yakni layanan yang diperuntukkan bagi keluarga pascaperceraian. “Kita mencoba menginisiasi adanya MoU dengan Kementerian Agama, Pengadilan Agama, dan P3AP2KB untuk menyelesaikan paska perceraian. Harapannya satu, semua sejahtera,” pungkasnya. (Awn)

Read previous post:
Tersangka SAT digelandang ke Mapolres Kulonprogo setelah mengedarkan uang palsu
DEMI MODAL USAHA – Beli Sapi Kurban Pakai Uang Palsu

KALIBAWANG (MERAPI) - Niat SAT (45), warga Kalikendo, Kalirejo, Salaman, Magelang untuk membesarkan usaha pembuatan batu bata yang digelutinya sudah tidak

Close