• Sabtu, 20 Agustus 2022

Prof Bambang Kuswandi Masuk Daftar 58 Ilmuwan Paling Berpengaruh di Dunia

- Kamis, 28 Oktober 2021 | 17:00 WIB
Dosen Unej Prof. Bambang Kuswandi  (ANTARA/HO-Humas Unej)
Dosen Unej Prof. Bambang Kuswandi (ANTARA/HO-Humas Unej)

JEMBER, harianmerapi.com - Dosen Universitas Jember (Unej) yang juga Wakil Rektor III kampus setempat Prof Bambang Kuswandi masuk dalam daftar 58 ilmuwan asal Indonesia yang paling berpengaruh di dunia berdasarkan versi Stanford University Amerika Serikat.

Prof. Bambang Kuswandi adalah guru besar dan peneliti asal Fakultas Farmasi Unej yang fokus pada pengembangan sistem sensor kimia dan biologi untuk obat, pangan dan kesehatan.

"Alhamdulillah, tentu saja penghargaan itu menjadi penyemangat bagi saya untuk lebih giat meneliti dan bersyukur jika ternyata hasil penelitian saya dijadikan rujukan oleh peneliti lain," kata Bambang Kuswandi dalam rilis yang diterima ANTARA di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (28/10/2021).

Baca Juga: Hingga 27 Oktober 2021, Covid-19 Merenggut Nyawa 285 Orang di Salatiga

Menurutnya sudah ada 70 karya tulis ilmiah hasil penelitiannya mengenai sensor kimia dan biologi yang dimuat oleh berbagai jurnal ilmiah internasional.

"Saya mulai meneliti sensor kimia dan biologi sejak menempuh kuliah pascasarjana di University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST) di Inggris tahun 1997 dan menjadikan kajian tersebut sebagai tema tesis dan disertasi," tuturnya.

Prof Bambang memilih fokus pada sensor kimia dan biologi karena aplikasinya dibutuhkan oleh masyarakat luas, sementara untuk pengembangannya tidak selalu memerlukan standar laboratorium yang canggih.

Baca Juga: Sri Sultan: Yitna Yuwana Lena Kena, Siapa yang Berhati-hati Selamat, yang Tidak Akan Celaka

Salah satu contoh sensor kimia yang dkembangkan antara lain sensor untuk mengetahui kesegaran ikan atau produk berbasis ikan seperti fillet ikan, sehingga dengan sensor itu maka konsumen bisa mengetahui dengan gampang apakah produk yang di belinya masih segar atau sudah tidak layak konsumsi.

"Jadi sensor itu bisa ditempel di kemasan produk berbasis ikan atau bahkan daging lainnya. Jika sensor menunjukkan warna hijau maka masih segar, muncul warna merah berarti sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi," katanya.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X