Limbah Domestik Penghias Sungai Code

MERAPI –TRI DARMIYATI/Pipa-pipa saluran limbah rumah tangga tampak mengalir dibuang langsung ke Sungai Code.
MERAPI –ISTIMEWA
Pipa-pipa saluran limbah rumah tangga tampak mengalir dibuang langsung ke Sungai Code.

SEBAGIAN besar sungai di Indonesia mengalami kerusakan, yakni dari 82 sungai besar di Indonesia 62 di antaranya tergolong dalam sungai yang kritis (BBWA Serayu Opak, 2008). Kerusakan-kerusakan tersebut diakibatkan oleh aktivitas manusia yang
mengibaratkan sungai sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah gratis. Segala macam limbah dan kotoran dibuang ke sungai tanpa ada pengolahan lebih dahulu.

Sungai-sungai yang melewati kota besar pada umumnya kualitas airnya tercemar oleh limbah baik dari industri, rumah tangga, perikanan, dan pertanian. Temasuk Sungai Code, yang menjadi pusat perhatian banyak pihak dan memiliki tingkat kemendesakan dalam pengelolaannya. Sungai Code melintasi Kota Yogyakarta dan berdekatan dengan beberapa tempat strategis, seperti Malioboro, Tugu, Kraton, dan lainnya. Sungai Code melintas pada kawasan pemukiman yang cukup padat di kiri kanan sungai serta kondisinya menunjukkan kecenderungan makin memburuk dari tahun ke tahun.

Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, kawasan Sungai Code pun menjadi sasaran untuk dijadikan daerah permukiman. Akibatnya permasalahan di daerah aliran Sungai Code menjadi sangat kompleks. Mulai terjadinya pencemaran
air sungai, penyempitan badan sungai, tingginya erosi dan sedimentasi, hingga berujung pada seringnya terjadi banjir di daerah aliran Sungai Code. Sungai Code menunjukkan kualitas air terburuk, dibandingkan sungai lainnya yang melintas di Kota Yogyakarta, karena bakteri Coliform Tinja terdeteksi paling tinggi dan kandungan oksingen terlarut paling rendah.

Selain itu, sumber pencemar yang mendominasi di Sub DAS Code adalah Hotel/Restoran/Mall, diikuti dengan bengkel/cuci motor dan pelayanan kesehatan. Dari 11 (sebelas) jenis pencemar terdapat 7 sumber pencemar yang menyumbangkan parameter pencemar BOD, COD, TSS. Hal inilah yang menyebabkan hasil BOD, COD melebihi baku mutu. Selain itu dengan keberadaan Industri Percetakan maka ancaman logam berat berpotensi terjadi. Untuk parameter pencemar minyak terdapat di 8 dari 10 jenis pencemar.

Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran sungai adalah untuk segi kesehatan sangat berbahaya, karena air sungai masih dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, baik mandi, mencuci ataupun untuk air minum. Polusi air juga akan mengancam habitat
ikan di sungai. Sungai yang tercemar dari segi estetika juga tidak nyaman, selain berwarna hitam, banyak sampah yang terapung, juga baunya menyengat.

Analisis Data terdiri dari analisa pencemaran limbah domestik, analisis potensi sumber pencemar, serta analisis strategi penurunan bebab pencemaran. Pertama, Analisis Pencemaran Limbah Domestik dilakukan dengan pengukuran dan uji laboratorium air
limbah domestik untuk parameter COD, TSS, dan NH3. Sampel dilakukan pada titik inlet dan outlet limbah. Hasil uji laboratorium selanjutnya dianalisis dengan baku mutu serta membandingkan nilai antara inlet dan outlet. IPAL dinyatakan efektif jika konsentrasi pada outlet sudah lebih rendah dibandingkan inlet untuk suatu parameter.

Kedua, Analisis potensi sumber pencemar didasarkan pada hasil pengolahan data kuesioner serta laporan pemantauan dari instansi terkait. Analisis mencakup aspek besaran, frekuensi, proyeksi, jenis serta faktor yang mempengaruhinya. Ketiga Analisis strategi Penurunan Beban Pencemar dilakukan dengan deskriptif. Analisis deskriptif didasarkan pada hasil pengolahan data kuesioner, studi konseptual, studi kebijakan, serta kondisi eksisting. Rekomendasi berupa strategi diletakkan atas prinsip partisipatif dan untuk kepentingan lingkungan.

Secara umum pengelolaan sungai Code dapat dilakukan dengan 3 strategi yaitu: 1. Pemberdayaan Sosial- Budaya. 2. Pendekatan Politis. 3. Pengembangan Ekonomi Masyarakat. Selain itu, strategi pengelolaan lingkungan juga dapat dilakukan dengan mengajak
masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengoptimalkan kelembagaan maupun komunitas lokal. Salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan sungai adalah penggunaan konsep community based development. Pembangunan berbasis masyarakat dapat dimaknai sebagai co-management (pengelolaan bersama), yakni pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah setempat, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pembangunan dan pengelolaan. Community development adalah suatu upaya perubahan terencana (planned change) yang dilakukan secara sadar dan sungguh-sungguh melalui usaha bersama masyarakat untuk memperbaiki keragaan sistem kemasyarakatan (Chambers, 2006). (Ditulis: Chatrien Mutia Andesyana, Mahasiswa Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana)

Read previous post:
Kartun Jurukunci, Selasa (7/7/2020)

Close