Guru Besar IST Akprind Prof Sudarsono, Teliti Pemanfaatan Material Komposit Serat Alam

MERAPI–ISTIMEWA  Prof Sudarsono membacakan pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Lingkungan IST Akprind Yogyakarta.
MERAPI–ISTIMEWA
Prof Sudarsono membacakan pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Lingkungan IST Akprind Yogyakarta.

SLEMAN (MERAPI) – Energi angin merupakan energi yang berkelanjutan karena senantiasa tersedia di alam dalam waktu yang relatif panjang sehingga tidak perlu khawatir akan kehabisan sumbernya. Alternatifnya, bisa menggantikan bahan bakar fosil dan merupakan sumber energi yang ramah lingkungan serta bebas polusi.

Hal tersebut disampaikan Prof Sudarsono pada pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Lingkungan Institut Sains & Teknologi (IST) Akprind Yogyakarta yang berjudul “Pemanfaatan Material Komposit Serat Alam Untuk Mendukung Pengembangan Energi Terbarukan Sebagai Solusi Mengurangi Efek Gas Rumah Kaca” pada Jumat (8/11) di kampus IST Akprind.

Sudarsono mengatakan, energi baru terbarukan merupakan bagian yang sangat penting dalam pencapaian target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara nasional dan global dalam penurunan emisi GRK tersebut.

Ia menyebutkan, hal itu selaras dengan tiga pilar penting upaya penurunan emisi GRK. “Yaitu pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke sektor produktif, penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23 % pada tahun 2025 dan pengolahan sampah menjadi sumber energi,” katanya.

Dengan demikian, katanya, diperlukan riset dan pemikiran yang berkelanjutan dalam pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya kemanfaatan serat alam lokal Indonesia guna mendukung mitigasi gas rumah kaca serta program industri rendah karbon.

Pemanfaatan serat alam lokal Indonesia dalam pengembangan energi baru terbarukan antara lain adalah komposit serat rami dengan core kayu sengon laut yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan sudu kincir angin.

“Dari kajian yang telah dilakukan, komposit yang dibuat memiliki kekuatan dan kekakuan yang tinggi, densitas rendah, tahan korosi, kekuatan lelah yang tinggi dan mudah dibentuk,” ungkapnya.

Di sisi lain, menurut penuturan Rektor IST Akprind, Amir Hamzah, Prof Sudarsono merupakan Guru Besar pertama yang lahir dari IST Akprind Yogyakarta. Hari ini terbayar sudah perjuangan panjang (Prof Sudarsono) selama 32 tahun menjadi dosen, jerih payahnya meneliti, menulis, publikasi dan berbagai karya yang disandangnya menjadi guru besar.

“Semoga dengan diterimanya jabatan Guru Besar ini, kontribusi dan keteladanan bagi kemajuan IST Akprind semakin nyata ke depannya,” tutup Amir. (C-2)

Read previous post:
HUT KORPRI, HANTARU, PGRI DAN KAGAMA: Motivasi Pegawai Gemar Berolahraga

SLEMAN (MERAPI) - Ribuan anggota Korpri dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sleman, memeriahkan senam dan jalan sehat di

Close