Kuota Pengunjung Candi Borobudur 4.000 Orang Per Hari

MERAPI-ANTARA
Sejumlah pekerja menutup stupa menggunakan kain terpal di Kompleks Candi Borobudur, sebagai langkah antisipasi melindungi batu candi dari abu vulkanik jika Gunung Merapi erupsi.

KUOTA pengunjung Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, mulai Kamis (26/11) lalu bertambah menjadi 4.000 orang dari sebelumnya 3.500 orang per hari. Direktur Teknik dan Infrastruktur PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero) Mardijono Nugroho di Magelang, mengatakan dengan penambahan jumlah pengunjung ini diharapkan pihaknya tetap bisa menjaga amanah.

Pada masa pandemi ini, Taman Wisata Candi Borobudur semula hanya bisa dikunjungi 1.500 orang per hari, kemudian menjadi 2.000 orang, dan selanjutnya 3.500 orang per hari, dan sekarang menjadi 4.000 orang per hari.

Menurut dia, izin penambahan jumlah pengunjung tersebut keluar pada Rabu (25/11), maka mulai Kamis berlaku jumlah pengunjung 4.000 orang per hari.
“Dengan persetujuan pengunjung 4.000 orang per hari ini semoga kita bisa menjaga amanah untuk kesehatan kita, kesehatan para pengunjung. Hal ini juga untuk mengantisipasi peningkatan wisatawan atau pengunjung pada akhir tahun,” katanya.

Menurut dia, batas 4.000 pengunjung per hari tersebut baru 40 persen dari kapasitas maksimal Borobudur.
Ia mengimbau wisatawan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan memakai masker, cuci tangan, dilakukan pengecekan suhu tubuh, dan menjaga jarak.

Sementara itu Petugas Balai Konservasi Borobudur (BKB) mulai menutup bangunan Candi Mendut di Kabupaten Magelang, dengan “terpaulin” untuk mengantisipasi hujan abu jika terjadi erupsi Gunung Merapi. Koordinator Kelompok Kerja Pemeliharaan Kawasan Cagar Budaya Borobudur Bramantara di Magelang, Kamis, mengatakan selain Candi Borobudur, BKB juga menutup Candi Mendut dan Candi Pawon untuk mengantisipasi erupsi Merapi.
“Proses penutupan ditargetkan selesai dalam waktu satu hingga dua minggu, karena keterbatasan personel,” katanya dikutip Antara.

Penutupan bangunan candi dimulai dari bagian atas. ]Para pekerja naik menuju atas candi dengan menggunakan tangga, kemudian “terpaulin” dinaikkan dengan ditarik menggunakan tambang.
Bramantara mengatakan upaya penutupan bangunan candi tersebut sebagai salah satu bentuk tanggap bencana, dalam mengantisipasi erupsi Gunung Merapi, sehingga dampak hujan abu bisa diantisipasi.
“Penutupan dengan ‘terpaulin’ ini sebagai satu bentuk tanggap bencana jika nanti sewaktu-waktu Gunung Merapi meletus sehingga sejak awal sudah dilakukan antisipasi, terutama jika terjadi hujan abu,” katanya.

Menurut dia, kendala yang dihadapi dalam penutupan bangunan Candi Mendut, yakni keterbatasan personel di candi itu.
Sejak awal November 2020, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi dari level II (Waspada) ke level III (Siaga). Satu level lagi sebagai tertinggi, yakni level IV (Awas). (*)

Read previous post:
Pesantren Abata Tampung Santri Berkebutuhan Khusus

PESANTREN Abata, siapa yang tidak mengenal pesantren ini. Satu-satunya pesantren khusus untuk para penyandang disabilitas tunarungu yang kini telah berdiri

Close