UKDW Gelar Webinar Restorasi Bumi sebagai Tanggung Jawab Bersama

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teologi dan BEM Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar webinar nasional untuk memperingati hari bumi dengan tema “Restore Our Earth” pada hari Sabtu, 24 April 2021 via Zoom Meeting. Adapun yang menjadi keynote speaker pada acara tersebut adalah Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen KSDAE KLHK) Ir. Wiratno, M.Sc. yang menyampaikan materi Tantangan dan Prospek Restorasi Bumi di Indonesia.

Selanjutnya disampaikan sharing best practices Komunitas Peduli Restorasi Bumi oleh Sustainable Development Manager PT. Tirta Investama Klaten Rama Zakaria dan Deputi II Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Erasmus Cahyadi, SH. Sementara itu Kajian Restorasi Bumi dan Perspektif Teologi dan Bioteknologi disampaikan oleh Dekan Fakultas Teologi UKDW Pdt. Robert Setio, Ph.D dan Dekan Fakultas Bioteknologi UKDW Kisworo, M.Sc.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama (WD III) Fakultas Teologi UKDW Pdt. Dr. Wahyu Nugroho, MA menyampaikan tujuan diadakannya webinar ini adalah memberikan pengetahuan tentang pentingnya ambil bagian dalam upaya restorasi bumi dalam konteks Indonesia, memberikan landasan ilmiah tentang restorasi bumi dari perspektif teologi dan bioteknologi, dan mendapatkan contoh best practices dari komunitas-komunitas yang secara aktif melakukan upaya restorasi bumi.

“Dengan adanya webinar ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan tumbuhnya tanggung jawab kolektif untuk berkontribusi pada upaya pemulihan bumi,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UKDW Ir. Henry Feriadi, M.Sc., Ph.D mengungkapkan isu tentang lingkungan sudah mencapai dimensi yang berbeda. Melalui webinar ini kita diajak merenungkan bagaimana kita sebagai manusia bisa hidup berdampingan dengan ciptaan lainnya, karena kajian tidak hanya dilakukan dari sisi lingkungan tetapi juga dari perspektif teologi. “Alam tempat kita tinggal sudah memiliki kecenderungan untuk berubah akibat global warming. Bencana alam yang terjadi beberapa waktu yang lalu seperti badai siklon tropis seroja di NTT, banjir bandang, dan tanah longsor hendaknya membuat kita berefleksi, bagaimana sesungguhnya kita memperlakukan bumi,” katanya.

Dirjen KSDAE KLHK Ir. Wiratno, M.Sc. menuturkan bahwa yang menciptakan krisis lingkungan adalah manusia dan untuk mengembalikan fungsi ekosistem lingkungan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan upaya dari semua pihak untuk mendorong kesadaran masyarakat terkait perusakan alam dengan memberikan contoh secara nyata. “Hal ini merupakan tugas dari semua elemen baik itu melalui pendidikan
maupun ajaran agama,” tuturnya.

Sementara itu Deputi II Sekjen AMAN Erasmus Cahyadi, SH menyebutkan hutan di daerah pedalaman yang berada di wilayah masyarakat adat banyak yang beralih fungsi sebagai lahan pertambangan dan perkebunan sawit. Masyarakat adat berada dalam situasi terjepit. Mereka berinisiatif melakukan restorasi bumi dengan melakukan penanaman pohon, namun di beberapa lokasi upaya ini dicegat karena dianggap merebut wilayah tersebut dari penguasaan negara. “Upaya restorasi dari masyarakat adat sebetulnya masih terus berlanjut, tapi dalam skala yang sangat kecil. Oleh karena itu butuh dukungan dari banyak pihak, serta dialog dengan pihak industri. Pemerintah menjadi kunci bagaimana mengaktivasi kearifan tradisional itu sebagai upaya merestorasi ekosistem kita,” jelasnya. (*)

Read previous post:
Bersenjata Pistol, Sindikat Asal Lampung Sikat Motor Hanya Butuh 10 Menit

Close