15.736 UMK Yogya Diusulkan Terima Bantuan Produktif

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Sampai batas penutupan, total ada 15.736 pelaku usaha mikro kecil (UMK) di Kota Yogyakarta diusulkan ke pemerintah pusat untuk mendapatkan bantuan produktif senilai Rp 2,4 juta. Sebagian pelaku UMK itu telah menerima bantuan produktif itu dan digunakan untuk tambahan modal usaha.

“Penyampaian usulan bantuan produktif usaha mikro kecil sudah ditutup 24 November lalu. Jumlah pelaku usaha mikro kecil yang kami usulkan itu sudah lolos verifikasi di tingkat kota,” kata Kepala Bidang UKM Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta, Bebasari Sitarini, Senin (30/11).

Meski demikian pihaknya tidak dapat memastikan semua pelaku usaha mikro kecil yang diusulkan itu lolos dan menerima bantuan produktif. Mengingat keputusan akhir pelaku lolos menerima bantuan di pemerintah pusat. Hanya dari hasil pemantauan dan evaluasi sebagian pelaku UMK telah menerima bantuan produktif tersebut. Penyaluran bantuan dilakukan melalui bank pemerintah.

Dia menyampaikan berdasarkan surat keputusan (SK) dari kementerian terkait penerima bantuan produktif terdata ada 1.062 usaha mikro kecil. Tapi menurutnya ada sebagian pelaku UMK yang terdata di SK, tidak cair bantuannya.

“Kami pegangannya dari SK itu. Tapi ada yang tertulis di SK, tapi tidak cair. Kami tidak tahu sistemnya seperti apa karena ada persyaratan dari bank penyalur,” ujarnya.

Dia menyatakan, Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta bersama perwakilan dari kementerian terkait sudah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerima bantuan produktif. Ada tiga pelaku UMK yang dipantau di antaranya produksi ecoprint dan bakpia.

“Rata-rata bantuan digunakan untuk tambahan modal, seperti untuk membeli bahan baku pembuatan bakpia. Tapi pelaku usaha merasa nilai bantuan itu cukup kecil,” papar Sita.

Secara terpisah salah satu pelaku UMK di Kota Yogyakarta yang telah menerima bantuan produktif Rp 2,4 juta, Dameria Simanungkalit mengaku terbantu dengan bantuan pemerintah itu. Pelaku usaha kuliner putu mayang dan kripik manggleng itu menggunakan bantuan produktif untuk tambahan modal usaha.

“Sangat terbantu karena usaha sempat berhenti selama lima bulan. Kami mencoba produksi lagi putu mayang di bulan Agustus. Hasilnya hanya 50 persen dari sebelum pandemi. Hasilnya hanya cukup untuk makan,” ucap Dameria. (Tri)

Read previous post:
Bugel Dicanangkan Jadi Kampung KB Berkualitas

Close