Pakaian Tie Dye di Pasar Beringharjo Laris Manis Diserbu Wisatawan

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Libur panjang akhir pekan ini memberi sedikit angin segar bagi pedagang fesyen di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Wisatawan yang datang ke Yogyakarta berpengaruh pada meningkatnya penjualan pakaian di pasar sisi barat itu.

Menurut Ketua Paguyuban Pedagang Pageraharjo Pasar Beringharjo Barat, Ujun Junaedi ada peningkatan penjualan produk fesyen berkisar 10-15 persen selama dua hari kemarin. Tapi kenaikan penjualan itu disebutnya level paling rendah dibandingkan kondisi normal saat libur panjang sebelum pandemi Covid-19.

“Saya keliling ke teman-teman pedagang. Yang tidak pernah laku, kemarin ada yang laku lima potong baju dan dua sampai tiga potong. Alhamdulilah ada pengunjung walaupun tidak merata ke semua pedagang,” kata Ujun, Jumat (30/10).

Ia menjelaskan para pembeli didominasi dari wisatawan luar kota seperti Jakarta ,Bandung dan Surabaya. Koleksi pakaian yang paling banyak dicari saat ini adalah baju tidur tie dye Atau teknik ikat celup warna cerah dengan harga mulai Rp 50.000. Di samping itu produk kerajinan di lantai 3 berupa karpet juga cukup ramai. “Yang banyak dicari sekarang koleksi tie dye. Itu baju tidur tapi sekarang juga banyak dipakai untuk baju jalan-jalan,” ujarnya.

Dia menuturkan keramaian pembeli pakaian di masa libur panjang akhir pekan hanya di bagian barat depan dan tengah serta jalur yang biasanya mudah dilewati pengunjung. Sedangkan pedagang fesyen di bagian belakang dan atas seperti Metro belum ada pengunjung yang signifikan selama pandemi Covid-19. Diakuinya sudah ada papan informasi mengenai produk-produk yang dijual di lantai atas. Tapi hal itu tak serta merta mendorong wisatawan ke atas atau ke belakang karena terkait perilaku.

“Pembeli tahunya pakaian Pasar Beringharjo yang di barat depan dan tengah. Kalau sudah dapat barang yang dicari dan terbeli ya sudah tidak naik. Harapan kami di sisa waktu liburan ini, kenaikan penjualan pakaian bisa meluber ke pedang di bagian belakang dan atas,” terang Ujun.

Dia menilai kondisi pedagang Beringharjo barat bisa pulih merata, jika ekonomi nasional membaik. Terutama jika pedagang tengkulak pakaian dari Jawa Tengah sudah datang kembali membeli secara besar. Kini disebutnya baru sebagian pedang tengkulak yang mulai aktif lagi seperti membeli koleksi baju pernikahan.

Sementara itu Paguyuban Pedagang Adem Ayem Pedagang Pasar Beringharjo Barat, Bintoro juga berharap libur panjang pekan ini bisa menambah omzet penjualan setelah beberapa bulan sepi pembeli karena pandemi Covid-19. Dia berpendapat kondisi penjualan pedagang pakaian di Beringharjo Barat belum stabil. Apalagi beberapa waktu lalu, lanjutnya, di media sosial beredar informasi tidak bertanggungjawab yakni Pasar Beringharjo tutup membuatnya pasar menjadi sepi.

“Paling tidak omzet bisa meningkat sampai 50 sampai 70 persen. Itu sudah senang karena sudah beberapa bulan ini pasar mengalami kelesuan. Untuk harga tetap tidak berubah. Tidak ada kenaikan baik liburan atau tidak. Hampir semua pedagang mencari dagangan yang terbaik untuk pengunjung,” ujar Bintoro. (Tri)

Read previous post:
Petani Bawang Merah Diminta Lakukan Modernisasi

Close