Sang Adiwira Layak Disandang Sri Sultan HB II

KRATON Yogyakarta menyelenggarakan pameran temporer Adhyatmaka bertajuk Sang Adiwira, Sri Sultan Hamengku Buwono II, Kamis (29/10) hingga Minggu (31/1) di Kompleks Plataran Kedhaton Kraton.

Raja Yogyakarta Sri Sultan HB X dalam sambutannya mengatakan gelaran pameran yang melekatkan sebutan Sang Adiwira pada tema yang diusung memang pantas disandang Sri Sultan HB II.

“Gelar pameran dilekatkan sebutan sang adiwira. Predikat itu layak disandang beliau sebagai calon pahlawan yang dalam proses pengusulan,” ungkapnya pada pembukaan pameran, Kamis (29/10) secara daring.

Bukan hanya sebagai patriot dan pejuang yang dikenal sangat alot melawan penjajah, Sri Sultan HB II juga dikenal sebagai seniman dan sastrawan yang hebat.

“Beliau tidak hanya sebagai patriot tapi juga meninggalkan warisan monumental di bidang sastra berupa karya-karya heroik Babad Nitik Ngayogya dan Babad Mangkubumi. Dua babad ini menceritakan berdirinya Kraton Yogyakarta,” jelasnya.

Sri Sultan HB II dilahirkan pada Sabtu Legi, 7 Maret 1759 di lereng Gunung Sindoro. Diberi nama Raden Mas (RM) Sundoro sesuai dengan nama tempat kelahirannya. RM Sundoro adalah putra dari Pangeran Mangkubumi.

RM Sundoro dikenal sebagai pemimpin yang konsisten melawan penjajah hingga akhir hayatnya. Sejak muda, Sultan HB II telah menunjukkan pribadinya sebagai salah satu bangsawan yang selalu menjaga integritas dan kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sri Sultan HB II dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah kolonial Belanda sehingga sempat diturunkan tahtanya dan diasingkan berulang kali yakni di Penang tahun 1812, Ambon tahun 1817, dan Surabaya tahun 1825.

Pameran dapat dikunjungi sesuai jam buka Kraton yakni Selasa-Minggu, pukul 08.00-14.00 dengan menerapkan protokol kesehatan. Tiket masuk pameran dibandrol seharga Rp 8 ribu atau pengunjung dapat membeli tiket terusan Rp 15 ribu agar dapat menikmati wisata Kraton Yogyakarta sekaligus memasuki area pameran Sang Adiwira.

Penghageng KHP Nityabudaya, GKR Bendara mengatakan meski lebih dari 20 dasawarsa namun bentuk legitimasi Sultan HB II masih dapat disaksikan seperti bangunan benteng Baluwarti, Pesanggrahan Rejawinangun, Cendanasari, dan Gua Siluman.

“Serta ada juga manuskrip pusaka yang hingga kini masih tersimpan di dalam Keraton Yogyakarta. Maka dari itu, kisah Sang Perwira inilah yang kemudian kami angkat menjadi tema dalam Pameran Temporer Adhyatmaka tahun ini,” ungkapnya.

Meski pandemi membuat rangkaian Hajad Dalem Sekaten (miyos dan kondur gangsa) tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, Kraton Yogyakarta tetap mencoba memfasilitasi edukasi budaya dengan konsep berbeda yaitu melalui pameran Sang Adiwira Sri Sultan HB II.

Sesuai tema besarnya, pameran akan menghadirkan koleksi Museum Kraton Yogyakarta yang berasal dari masa Sri Sultan HB II maupun benda-benda yang berkaitan dengannya yakni busana, batik, kristal, perak, porselen, hingga berbagai dokumentasi terkait karya seni, bangunan, serta militer.

“Tak hanya memamerkan beragam koleksi museum, dalam rangkaian pameran Sang Adiwira kali ini akan diselenggarakan juga empat webinar pada bulan November dan Desember 2020 dengan tema busana, pesanggrahan, alat makan, dan arsitektur,” jelasnya. (C-4)

Read previous post:
Pulang Dinas, Bripka Slamet Suryono Jadi Petani Sayuran

Close