63 Persen Orangtua Ingin Anaknya Melanjutkan Belajar dari Rumah, Yogya Siapkan Platform KBM Online

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Banyak orangtua di Kota Yogyakarta menghendaki agar kegiatan belajar di rumah tetap dilanjutkan selama wabah Covid-19. Alasannya untuk keamanan anak-anak. Oleh sebab itulah, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menyiapkan pembelajaran dari rumah dan protokol baru pembelajaran tatap muka di sekolah sebelum menuju normal baru.

“Untuk normal baru kami siapkan belajar dari rumah. Tapi kami juga menyusun standar operasional prosedur untuk pembelajaran tatap muka jika nantinya ada aturan siswa masuk sekolah,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, Selasa (23/6).

Dedi mengutarakan, berdasarkan hasil survei Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, sekitar 63 persen orangtua masih menginginkan anaknya melanjutkan belajar dari rumah. Alasannya karena ada kekhawatiran potensi penularan virus corona jika belajar di sekolah dan adanya sarana yang mendukung untuk belajar di rumah. Tapi sebagian orantua lainnya menghendaki masuk sekolah karena ada kendala sarana pendukung belajar dari rumah.

“Di awal pandemi, tujuan belajar di rumah untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Makanya sekolah dibebaskan untuk pembelajaran di rumah bagi siswa seperti apa. Nantinya normal baru pembelajaran di rumah harus mulai bicara aspek pencapaian target pembelajaran sesuai kurikulum,” terangnya.

Untuk itu Dinas Pendidikan bersama Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta tengah menyiapkan platform aplikasi standar untuk mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) secara online dari rumah. Menurutnya, platform standar untuk kegiatan belajar mengajar online itu setidaknya bisa untuk menyampaikan materi pembelajaran dengan mudah, memenuhi kebutuhan administrasi guru, dan memberikan informasi ke orangtua terkait aktivitas anak saat belajar dari rumah.

“Jika nantinya ada aturan siswa masuk sekolah kami siapkan standar operasiona prosesdur seperti mengurani jam belajar, mengatur siswa masuk dengan metode ganjil genap, mengatur jarak tempat duduk. Termasuk protokol kesehatan seperti wajib masker. tempat cuci tangan dan cek suhu tubuh,” papar Dedi.

Sementara itu Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta Tri Hastono mengatakan platform standar belajar online sedang dikaji dan disiapkan bersama Dinas Pendidikan. Dia menilai secara infrastruktur Kota Yogyakarta sudah memadai untuk pelaksanaan belajar dari rumah secara online. Namun kemampuan masyarakat untuk mangakses belajar online dari segi sarana pendukung karena tidak semua siswa memiliki perangkat telekomunikasi yang mendukung.

“Persoalannya soal kemampuan masyarakat untuk mengakses karena ada sebagian siswa yang terkendala dari segi sarana misalnya telepon pintar. Dari data yang ada 15 persen siswa di SMP Negeri di Kota Yogya masuk jalur KMS atau warga miskin yang dimungkikan terkendala untuk belajar daring. Itu nanti kami akan upayakan untuk mengatasinya,” tandas Tri. (Tri) 

Read previous post:
AKSI HEROIK PENJAGA KOS DI BANGUNTAPAN-Tarik Pencuri Hingga Jatuh dari Motor

Close