PKL Malioboro Mulai Babat Alas Lagi

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro kembali beraktivitas setelah hampir 3 bulan libur karena wabah Covid-19 Meskipun pengunjung Malioboro belum ramai, tapi pedagang tetap mencoba peruntungan dengan menggelar lapak berbagai dagangan. Para PKL Malioboro siap menerapkan protokol Covid-19 dan menjaga jarak.

“Saya baru buka lagi hari ini karena sebagian pedagang sudah ada yang jualan sejak kemarin. Katanya sudah ada pembeli satu dua orang kemarin,” kata Armanda, salah satu PKL di Malioboro, Kamis (4/6).

Dia siap mengikuti protokol dan aturan yang nantinya diterapkan oleh komunitas para PKL. Misalnya menggunakan masker saat berjualan di Malioboro. Dari pantauan kemarin, PKL yang berjualan kebanyakan di sisi barat Malioboro di antaranya pedagang baju, kaos, tas dan gelang.

Pengurus Paguyuban PKL Tridharma, Malioboro, Paul Zulkarnaen, mengakui sebagian PKL di Malioboro suah mulai berjualan. Menurutnya para komunitas pedagang di Malioboro sudah menggelar rapat terkait beraktivitasnya kembali para pedagang dalam wabah Covid-19 dan menyikapi normal baru. Tapi komunitas tidak memaksakan semua pedagang untuk berjualan kembali.

“Sudah cukup banyak yang berjualan lagi. Memang ada pembeli tapi sedikit. Tapi kami ajak pedagang jangan berpikir rugi. Tapi beraktivitas lagi mulai babat alat dan bangkit. PKL Malioboro tidak mati suri lagi,” papar Paul.

Namun dia mengingatkan kepada para PKL yang berjualan lagi agar mematuhi protokol Covid-19 yakni memakai masker, menjaga kebersihan dengan cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer dan menjaga jarak. Termasuk anjuran dari Unit Pelaksana Teknis Malioboro agar pengunjung juga wajib memakai masker dan menjaga jarak.

“Untuk menjaga jarak, kami masih usahakan memasang tirai plastik transparan di lapak pedagang, sebagai pembatas,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan selama ini Pemkot Yogyakarta tidak menutup atau melarang aktivitas perdagangan di Malioboro. Pedagang berinisiatif sendiri tutup karena tidak ada pembeli. Tim Pemkot Yogyakata sudah melakukan diskusi beberapa kali dengan para pedagang di Malioboro untuk membahasa protokol baru. Wajib pakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan jaga jarak.

“Kami tidak menutup dan melarang, cuma memang pembelinya belum ada. Kami masih diskusikan protokol baru di Malioboro dengan para pedagang. Kami minta ada jaminan di gang tidak banyak pengunjung yang bersinggungan. Ada batas jalan sehingga tidak saling papasan. Makanya kami harap kapasitas dagangan jangan penuh dulu. Separoh dulu sambil transisi nunggu pembeli,” jelas Heroe.

Pihaknya percaya komunitas pedagang di Malioboro jauh lebih siap dalam menata dan menjaga jarak kelompoknya agar tidak menjadi kerumunan yang berpotensi menyebarkan Covid-19. Terkait kemungkinan pembasatan jumlah pedagang yang berjualan diakuinya sulit. Tapi kini kondisinya belum pulih sehingga belum semua berdagang karena pembeli belum datang.

“Saya kira pedagang juga menata diri. Kami harap kesadaran masing-masing untuk bertahap dalam berdagang lagi,” imbuhnya. (Tri)

Read previous post:
Harga Anjlok Hingga Rp 3.500 Perkilogram, Petani Cabai Kulonprogo Kena Imbas PSBB

Close