Jangan Terlena Wabah Corona, Warga Yogya Diminta Tetap Waspada Demam Berdarah

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Jumlah penyakit demam berdarah (DB) di Kota Yogyakarta cenderung menurun selama tiga bulan di awal tahun 2020. Namun di tengah pandemi Covid-19 dan cuaca yang masih hujan, masyarakat diminta tetap mewaspadai penyakit endemis seperti DB.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta sejak Januari sampai per 6 April 2020, total ada 148 kasus DB. Jumlah paling tinggi di bulan Februari dengan 72 kasus DB. Bulan Maret turun menjadi 42 kasus DB dan Januari 34 kasus DB. Sedangkan selama tahun 2019 total ada sebanyak 478 kasus DB dengan 1 kasus meninggal dunia.

“Kasus demam berdarah tahun ini agak turun dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu puncaknya Mei karena perkiraan hujan sampai bulan itu. Tapi ini belum tahu karena beberapa hari panas, hujan, panas, polanya susah ditebak,” kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu kepada <I>Merapi<P>, Jumat (10/4).

Menurutnya penurunan kasus DB itu bisa karena sebagian wilayah Yogyakarta menjadi lokasi penyebaran nyamuk Wolbachia. Namun hal itu belum terbukti valid. Hasil penelitian di laboratorium nyamuk berwolbachia bisa menekan DB.

“Dari pengamatan dari awal tahun ini kasus demam berdarah Yogya sekarang berada di ranking empat dan lima se-DIY. Tahun lalu Yogya di ranking dua se-DIY,” paparnya.

Dari segi sebaran kasus DB ada yang berubah dan tetap. Dinkes Kota Yogyakarta mencatat selama 3 bulan ini kasus DB terbanyak di Kelurahan Rejowinangun Kecamatan Kotagede dan Gedongkiwo masing-masing 18 kasus DB. Sementara pada tahun 2019, kasus terbanyak di Kelurahan Brontokusuman dengan 29 kasus DB dan Prenggan Kecamatan Kotagede sebanyak 28 kasus DB.

“Wilayah yang tinggi kasus DB biasanya di wilayah luas seperti Kecamatan Umbulharjo. Tahun ini yang cukup tinggi di Kelurahan Gedongkiwo,” ujar Endang.

Menurutnya dengan pola kasus DB yang tidak bisa ditebak, masyarakat tetap harus mewaspadi penyakit endemis itu, meskipun kini sedang pandemi Covid-19. Pihaknya tetap mengingatkan kewaspadaan penyakit endemis dan menullar seperti DB, Leptospirosis, Tuberculosis saat penyuluhan Covid-19 di wilayah.

“Saat ini kami dan masyarakat semua perhatian di Covid-19. Tapi penyakit-penyakit yang masih endemis seperti demam berdarah jangan sampai dilupakan. Misalnya masih hujan tiba-tiba kalau nggak waspada bisa kena demam berdarah maupun leptospirosis,” jelasnya. (Tri)

 

Read previous post:
Dua Kejuaraan Drumband di DIY Ditunda

Close