PKL Malioboro Bertahan Walau Sepi Wisatawan

SELAMA hampir sebulan ini keriuhan dan keramaian kawasan Malioboro seolah lenyap perlahan-lahan. Tak ada keramaian wisatawan yang berjalan atau duduk di kawasan pedestrian. Sebagian besar para Pedagang KakI Lima (PKL) juga sudah menutup lapaknya satu persatu karena wisatawan dan pembeli kian sepi. Namun terlihat masih ada beberapa PKL yang bertahan membuka lapak di Malioboro. Bertahan di tengah Malioboro sepi wisatawan.

“Dari PKL Tridharma tidak ada yang jualan lagi karena tidak ada pembeli. Tapi masih ada masih satu dua PKL yang bertahan membuka lapak jualan batik,” kata Pengurus Paguyuban PKL Tridharma, Malioboro, Paul Zulkarnaen, kepada Merapi, Selasa (7/4).

Dia menyebut anggota PKL Koperasi Tridharma sendiri ada sekitar 9.000 orang. Para PKL berjualan di pedestrian Malioboro sisi barat menghadap ke deretan toko. Sebagian PKL itu sudah menutup lakak sejak 2 minggu maupun 10 hari lalu. Mereka sebelumnya sudah bertahan dengan lapak kerajinan, kaos, dan oleh- oleh lainya.

“Saya dan istri sudah seminggu lebih tidak jualan. Awal-awal itu masih ada wisatawan, Terakhir buka tidak ada pembeli karena semakin sepi, sehingga benar-benar tidak ada omzet masuk,” ucapnya.

Selain karena tidak ada pembeli atau wisatan, lanjutnya, PKL tidak berjualan juga mengikuti anjuran pemerintah untuk berada di rumah. Diakuinya dengan kondisi tersebut membuat PKL tidak mendapatk masukan sementara ini. Namun para pedagang memahami kondisi itu karena pandemi Covid-19 terjadi di semua daerah dan negara-negara lain.

“Ini yang paling parah karena semua kena dampaknya. Waktu bencana gempa di Yogya dulu nggak seperti ini. Sekarang ini mau jualan juga nggak ada pembelinya, sehingga pedagang menutup sendiri lapaknya,” tambah Paul.

Menurutnya sebagian besar PKL Malioboro kini hanya di rumah dan menunggu kondisi membaik. Namun ada juga sebagian PKL yang berupaya memasarkan produknya secara online. Pihaknya berharap Covid-19 segera selesai dan kondisi normal kembali.

Secara terpisah Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Malioboro hingga Ahmad Yani (Pemalni), Slamet Santoso menuturkan, ada penurunan penjualan PKL Malioboro hampir 90 persen saat virus corona semakin meluas di Indonesia. Dicontohkan dirinya yang berjualan kaos pada awal-awal Maret dalam sehari bisa mendapatkan omzet berkisar Rp 400 ribu sampai Rp 800 ribu. Namun setelah itu kondisi Malioboro semakin sepi, akibatnya tidak ada pembeli.

“Meskipun tidak ada lockdown maupun kejadian luar biasa, wisatawan banyak yang sadar untuk di rumah saja, sehingga tidak berwisata di Yogya. Saya akhirnya meliburkan diri. Tapi tetap beraktivitas di rumah dan menghindari corona,” papar Slamet.

Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro, Ekwanto mengakui sebagian besa PKL dan toko di Malioboro tutup. Tapi masih ada sekitar 10- sampai 20 PKL dan toko di Malioboro yang beroperasional hingga kini. Dia menegaskan pemerintah tidak menutup Malioboro.

“Jumlahnya sekitar itu karena tidak ada pengunjung. Mereka menutup sendiri karena kondisi. Mungkin kalau buka biaya operasional tinggi, sementara tidak ada pengunjung,” ujar Ekwanto.

Terhadap gerobak-gerobak lapak PKL yang masih dibiarkan di lokasi pedestrian, dia menyampaikan, nantinya gerobak- gerobak itu harus digudangkan. Sebagian PKL membiarkan lapak itu karena berpikir kalau sekwatu-waktu ada pengunjung ramai. Walaupun sepi , tapi Malioboro tetap ada penjagaan selama 24 jam. (Tri)

 

Read previous post:
Dampak Covid-19, Kuota Pembelian Tembakau Turun

TEMANGGUNG (MERAPI) - Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq memastikan kuota pembelian tembakau rajangan dari dua industri rokok kretek besar di

Close