Andong Malioboro Hanya Diminati Saat Liburan

SALAH satu alat transportasi tradisional yang sudah ada sejak zaman sebelum merdeka, andong atau delman masih dijumpai di Yogyakarta. Namun tak di setiap sudut kota Yogyakarta. Angkutan tak bermotor roda empat itu hanya bisa ditemui di sepanjang Jalan Malioboro yang merupakan ikon wisata Yogyakarta. Puluhan andong dan, kusir-kusir yang sedang asik berbincang, juga kompak mengenakan setelan batik berbagai macam corak dan warna.

Namun andong di Malioboro, rupanya tidak menjadikannya sebagai pilihan pertama layanan transportasi di kawasan pedestrian tersebut. Maraknya layanan transportasi yang menawarkan biaya murah, menggeser minat beberapa kalangan masyarakat dan wisatawan untuk menggunakan andong.

Ketua Paguyuban Andong se DIY, Purwanto (49) mengatakan minat menggunakan andong di Malioboro saat ini hanya pada saat tertentu saja. Contohnya seperti pada saat liburan sekolah, libur lebaran serta tahun baru saja.

“Jadi sekarang hanya murni dari wisatawan, terutama wisatawan dari luar Jogja. Datang ke Malioboro cuman mau naik andong. Kita dapat uang itu ya cuman kalau lebaran, tahun baru sama liburan sekolah,” kata Purwanto saat ditemui di Kantor Paguyuban Andong DIY di Jalan Ibu Ruswo No 35, Prawirodirjan, Gondomanan, Selasa (10/3).

Purwanto tak memungkiri, jika andong saat ini kalah saing dengan transportasi lain lantaran harga yang lebih murah. Padahal jumlah andong di Malioboro sendiri mencapai 466 buah yang kesemuanya sudah melalui uji seleksi dan dipastikan sesuai dengan standar dan aman.

“Kita mempunyai anggota 540 yang ditetapkan dari Dinas Perhubungan Yogyakarta, yang aktif sekitar 466. Semua yang terdaftar dalam paguyuban sudah mempunyai sio KTB itu seperti STNK dan sio NKTB seperti plat nomer kendaraan,” jelasnya.

Diceritakan Purwanto, dulunya andong mempunyai trayek yang cukup luas utamanya di Kota Yogyakarta. Beberapa daerah seperti Kotagede, Pasar Beringharjo, Stasiun Lempuyangan, Tugu dan beberapa daerah lain akses transportasi menggunakan andong. Seperti trayek dari Pasar Kotagede ke pasar Beringharjo ongkosnya itu 10 ribu.

Keberadaan andong sendiri kini juga tengah terdesak dengan dirubahnya kawasan Malioboro menjadi kawasan pedestrian. Dengan adanya perubahan itu, membuat tempat mangkal andong sendiri jadi makin terbatas. Padahal paguyuban juga sudah menerapkan sistem 4 shift yang rata-rata itu per 4 jam.

Meskipun belum jelas bagaimana nasib ke depan, pihaknya tetap mendukung Malioboro menjadi kawasan pedestrian. Bukannya tanpa kritik, dari beberapa uji coba yang sudah dilakukan, menurut Purwanto ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki oleh pemerintah.

“Untuk sosialisasi pedestrian itu kan yang bisa masuk, pejalan kaki, sepeda ontel, becak ontel, trans jogja, mobil patroli, ambulance dan andong. Sekarang dicoba, malah banyak yang pakai jalan itu buat jalan dan duduk-duduk, buat selfie, sepeda jalan ke utara, becak jalan ke utara malah terkesan seperti car free day. Salah kaprahnya disitu,” paparnya.

Ke depannya ia berharap andong yang merupakan warisan budaya asli tetap dilestarikan utamanya oleh Dinas Pariwisata. Dengan menonjolkan andong yang kini mungkin hanya bisa ditemui di Yogyakarta, bukan tidak mungkin makin menambah minat wisatawan khususnya di Yogyakarta. (C-8)

Read previous post:
Watu Tekek, Padukan Keindahan Alam dan Suara Tokek

TEMPAT wisata baru bermunculan, sebagian di antaranya bahkan mempunyai nama unik. Kemajuan teknologi informasi pun kian mendukung keberadaan tempat wisata

Close