4 Warga Yogya Meninggal Akibat Leptospirosis 

MERAPI-ISTIMEWA Warga Karangwaru Kecamatan Tegalrejo melakukan kegiatan bersih bersama Reresik Minggu Legi.
Warga Karangwaru Kecamatan Tegalrejo melakukan kegiatan bersih bersama Reresik Minggu Legi. (MERAPI-ISTIMEWA)

UMBULHARJO (MERAPI) – Tak hanya demam berdarah, pada musim hujan ini masyarakat harus mewaspadai penyakit leptospirosis. Pasalnya penyakit yang disebabkan bakteri leptospira melalui kencing tikus itu telah merenggut 4 korban meninggal dunia di Kota Yogyakarta. Masyarakat diminta mengenali gejala leptospirosis.

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat, leptospirosis di tahun 2018 sekitar 17 kasus dengan 4 pasien di antaranya meninggal dunia. Kasus leptospirosis itu terjadi di Kecamatan Ngampilan, Wirobrajan, Gedongtengen, Kotagede, Kraton, Mantrijeron, Umbulharjo dan Gondomanan.

“Dengan angka kasus itu, indeks kematian leptospirosis bisa dikatakan cukup tinggi sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta Agus Sudrajat, Sabtu (17/11).

Menurutnya, tingginya angka kematian leptospirosis pada tahun 2018 karena pasien terlambat ditangani. Mengingat gejala leptospirosis yang timbul hampir sama seperti penyakit lain. Gejala leptospiros di antaranya demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, badan menggigil, mata merah dan disertai muntah.

“Jika ada tanda gejala-gejala leptospirosis segera periksakan ke fasilitas kesehatan agar bisa ditangani cepat. Umumnya leptospirosis bisa menyebabkan gagal ginjal yang mengakibatkan kematian,” terangnya.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan karena leptospirosis ditularkan melalui kencing tikus. Dia menuturkan tikus-tikus hidup di tempat–tempat yang kotor, sehingga kebersihan lingkungan harus terus digalakkan di masyarakat.

“Jika masyarakat tidak peduli dengan kebersihan lingkungan sekitar, kasus leptospirosis bisa terjadi di semua wilayah di Kota Yogyakarta. Kami harap kesadaran masyarakat juga untuk pola hidup bersih mencuci tangan dan kaki dengan sabun,” papar Agus.

Sedangkan penyakit demam berdarah Dinkes Kota Yogyakarta mencatat hingga 13 November 2018 sekitar 87 kasus. Meskipun jumlah kasus demam berdarah itu rendah, tapi pada musim hujan berpotensi meningkat. Dia menuturkan masyarakat selama ini sudah berusaha memutus mata rantai nyamuk. Misalnya gerakan pemberantasan sarang nyamuk dan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik.

Sementara itu, Peneliti Utama World Mosquito Program (WMP) Adi Utarini menyebut sudah ada sekitar 8.000 ember berisi telur nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia yang ditempatkan di rumah-rumah warga. Dari hasil penyabaran itu persentase nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia kini mencapai lebih dari 80 persen di seluruh wilayah pelepasan. Dari hasil penelitian di laboratorium nyamuk berwolbacia bisa menekan virus demam berdarah.

“Kami tengah meneliti dampak dari penyebaran aedes aegypti ber-wolbachia engan merekrut pasien demam yang berobat di 18 puskesmas di Kota Yogyakarta dan puskesmas di Kabupaten Bantul untuk menjadi responden. Hasil penelitian baru bisa diketahui pada 2020,” tandasnya. (Tri)

Read previous post:
Jangan Sepelekan Dehidrasi Saat Olahraga

OLAHRAGA lari kini menjadi gaya hidup sebagian masyarakat. Dipastikan tubuh bakal berkeringat. Saat haus, terkadang menunda minum karena asyik berlari maupun

Close