Petani Tembakau Terapkan Semai Mandiri Tembakau

MERAPI-Zaini Arrosyid
Petani merawan persemaian tembakau

TEMANGGUNG (MERAPI) – Petani tembakau lereng Gunung Sindoro memilih semai benih secara mandiri guna mendapatkan kualitas yang diinginkan terutama tembakau asli Temanggung, dibanding membeli di pasar atau pusat penyemaian.

Seorang petani, Ponadi warga Desa Tlahab Kecamatan Kledung mengatakan semai mandiri sebagai jaminan mendapatkan benih sesuai keinginan sebab petani mengetahui rekam jejak benih, yang umumnya didapat dari tanaman tembakau yang sengaja akan dijadikan benih pada musim sebelumnya.

” Biji tembakau diambilkan dari pemurnian secara mandiri dari pohon tembakau terbaik,” kata Ponadi, Senin (1/3).

Membeli benih di pasar, kata dia, sebagai pertaruhan. Penjual memang menyampaikan benih dari pemurnian pohon terbaik, tetapi itu tidak menjadi jaminan. Banyak kasus ternyata kualitas pohon tidak baik meski telah mendapat perawatan ekstra. Atau terkadang varietas yang diinginkan tidak sesuai.

“Kalau benihnya beli kan belum tentu sesuai dengan keinginan, soalnya saat masih benih susah membedakan antara varietas yang satu dengan yang lainnya,” kata dia.

Pemurnian mandiri, lanjutnya juga dapat menghemat biaya tanam. Kebutuhan petani untuk tanam jumlahnya cukup banyak. Misalnya, harga benih per satu tanaman tembakau seratus rupiah dengan kebutuhan benih delapan ribu benih, maka sudah menghemat biaya kurang lebih delapan ratus ribu.

Pemurnian benih kata dia, merupakan program Pemerintah Kabupaten Temanggung. Pemurnian ini pada varietas kemloko mulai dari kemloko 1 hingga 3, dan sebentar lagi varietas 6 dan 7. Karena, varietas itu yang cocok di Temanggung sehingga hasilnya baik.

Dia mengatakan memilih varietas kemloko tiga yang sesuai dengan karaktaer tanah dan cuaca di lahan. Di daerah lain di Temanggung kemungkinan cocok kemloko varietas 4, 5 atau yang lain.

Petani tembakau lainnya, Boyadi menambahkan umur benih tembakau siap tanam yakni diantara umur 40 hari hingga 50 hari, sehingga pembenihan tembakau sudah dilakukan sejak awal bulan Februari lalu.

“Sekarang rata-rata umur benih tembakau baru sekitar 25 hari, masih kecil dan butuh perawatan yang lebih agar benih tembakau bisa lebih kuat saat ditanam,” katanya.

Dikatakan petani di lingkungannya lebih suka pembenihan mandiri. Sebab dengan cara ini, dirinya bisa merencanakan penanaman tembakau dengan lebih baik. Persiapan tanam tembakau juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar, mulai dari mencangkul tanah, pemberian pupuk kandang dan persiapan lainnya.

” Banyak sekali keuntungan dengan pembenihan mandiri, tidak hanya bisa mendapatkan benih yang bagus, tapi juga bisa merencanakan tanam yang tepat,” kata dia.

Ia berharap pada musim tanam tembakau tahun ini, cuaca bisa lebih mendukung, sehingga pertumbuhan tanaman tembakau dan hasilnya menjadi lebih baik, serta tidak terserang hama.

“Cuaca sangat menentukan, kalau banyak hujan biasanya pertumbuhannya kurang. Semoga saja cuaca tahun ini lebih mendukung,” harapnya. (Osy)

Read previous post:
Bupati Sleman Siap Atasi Dampak Pandemi Covid-19 di Segala Bidang

SLEMAN (MERAPI) - Bupati Sleman terpilih hasil Pilkada serentak tahun 2020, Kustini Sri Purnomo siap bekerja nyata dalam mencegah dan

Close