Cara Baru Bercocok Tanam dengan Pupuk Fermentasi Urine

Demplot penanaman padi dengan pupuk cair fermentasi urine. (Foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Penanaman padi menggunakan pupuk cair dari fermentasi urine mulai dikenalkan lebih luas. Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (Dispertan PP) melakukan percontohan penanamannya di tanah kas Desa Papahan, Tasikmadu.

Kabid Peternakan Dispertan PP Karanganyar, Heri Sulistyo menyampaikan, dari total 10 hektare lahan, penanaman menggunakan pupuk cair itu diaplikasikan di atas lahan seluas 1 hektare. Pemakaian pupuk cair dari fermentasi urine menggantikan pupuk urea subsidi yang sering dikeluhkan petani akibat mahal dan langka.

“Kami memberikan solusi. Jadi nanti disemprot dengan cairan. Mulai saat pengolahan disemprot, mau ditanam disemprot dan setelah itu seminggu tiga kali,” kata Hery di lokasi penanaman bibit padi di Desa Papahan, Kamis (21/1).

Heri menjelaskan, bahan cairan yang digunakan untuk penyemprotan tersebut terdiri dari campuran urine, mikroba dan tetes tebu. Sementara ini, cairan yang digunakan dari urine kelinci. Selain itu, urine ibu hamil, manusia, kambing dan sapi juga dapat digunakan untuk penyemprotan padi.
“Sekali semprot membutuhkan sekitar 200 liter untuk satu hektare. 1 liter mikroba, 3 liter tetes tebu, air kelapa 20 liter dan kencing urine 170 liter. Untuk pestisida anti hama, wereng dan lain-lain. Ditambahkan kecubung wulung dan tembakau. Difermentasikan dulu seminggu sebelum digunakan,” kata Hery.

Hery menjelaskan, Dispertan PP telah menguji penanaman dengan metode itu sebanyak tiga kali. Sekali panen dapat menghasilkan sekitar 10 ton. Apabila menggunakan pupuk kimia, hasilnya satu hektare berkisar 6-8 ton sekali panen. Selain itu manfaat yang didapatkan, masa panen bisa maju sekitar 10 hari-25 hari.

“Setahun bisa panen empat kali. Ini dengan varietas umum. Perbedaan dengan penggunaan pupuk kimia, kalau ini anaknya atau bulir lebih banyak, hama tidak ada, dan panen maju. Panen maju 10-25 hari. Kalau musim hujan panen bisa maju 10 hari, Kalau kemarau panen bisa maju 25 hari,’’ kata Hery.

Heri menjelaskan, baru di Kecamatan Mojogedang yang sudah mengaplikasikan metode bercocok tanam menggunakan pupuk cair ini. Namun jumlahnya tidak banyak.
“Harapan kami dapat dikembangkan kepada petani lain. Tapi kembali tergantung kepada para petani. Memang ini agak ribet karena harus rutin menyemprotkan,” katanya. (Lim)

Read previous post:
Sekolah Kopi, Berjuang Bangkitkan Ekonomi di Masa Pandemi

TEMANGGUNG (MERAPI) - Petani kopi di Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung berjuang bangkit dari keterpurukan ekonomi di era Pandemi Covid-19 dengan

Close