Subsidi Pupuk Dipangkas 40 Persen, Petani Kelimpungan

Petani berburu pupuk sampai ke pengecer. (Foto: Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Pengurangan subsidi pupuk ternyata belum banyak diketahun para petani. Akibatnya, mereka yang terlanjur mengandalkan pasokan dari pemerintah, kini kelimpungan memenuhi kebutihan pokok tanamnya itu.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan pemerintah hanya mampu memenuhi 60 persen pupuk yang terdata di rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Ketentuan ini sebenarnya sudah diputuskan sejak awal tahun 2020. Hanya saja, belum semua petani tersosialisasi. Mereka yang terlanjur mengandalkan jatah rutin, kini kebingungan.

“Dari Dirjen PSP Kementerian Pertanian memberi batasan penebusan pupuk subsidi hanya 60% dari RDKK. Artinya, dipotong 40%. Gejolak yang muncul karena hal ini kurang disosialisasi. Selain itu, semua penebusan dengan kartu tani dan aktif,” katanya, Minggu (6/9).

Selain tak tahu jatahnya dipangkas, petani juga kesulitan membeli pupuk subsidi karena kartu taninya bermasalah. Bisa karena belum aktif, terblokir maupun belum terdaftar di kelompok tani. Siti mengatakan, semua penebusan pupuk subsidi hanya bisa dilakukan oleh petani berkartu tani aktif.

“Cara mengatasinya dengan menghubungi kantor BRI terdekat dengan didampingi mantri tani,” katanya.

Lebih lanjut Siti mengatakan, subsidi pupuk yang dikurangi bisa disiasati dengan membeli pupuk nonsubsidi atau menggantinya dengan pupuk organik.

“Kebutuhan urea se-Karanganyar 24 ribu ton. Tapi sesuai SK menteri, hanya dijatah 13 ribu ton. Per hektare kebutuhannya 250 kilogram, tapi yang diberi 60%-nya. Jika membeli nonsubsidi memang lebih mahal,” katanya.

Ia menyarankan petani merealokasi RDKK supaya menyiasati pengurangan subsidi. Sebab di sebagian daerah, jatahnya justru melebihi kebutuhan riil.

Sementara itu petani asal Jaten, Supriyono mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk subsidi di masa tanam (MT) ke tiga tahun ini. Kelangkaan pupuk bersubsidi terjadi sudah dua bulan terakhir. Kelangkaan pupuk ini kian menjadi karena hampir semua petani tidak dapat mencari keberadaan pupuk di pasaran.

“Pupuk sangat sulit sekali nyarinya. Sampai di luar daerah tetap juga tidak dapat,” katanya.

Ketua Gapoktan Tani Maju Kecamatan Jaten ini mengaku petani sangat kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan pupuk. Sementara para petani sudah terlanjur tanam.

“Kami sudah buru kemana saja tetap tidak ada. Terpaksa beli pupuk non subsidi meski harganya jauh lebih mahal. Sebenarnya tidak sebanding dengan harga jual pas panen nanti,” lanjut dia. (Lim)

Read previous post:
Daftar ke KPU Sukoharjo, Pasangan Joswi Target Menang di Atas 60 Persen di Pilkada 2020

SUKOHARJO (MERAPI) - Pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati Joko Santosa-Wiwaha Aji Santoso (Joswi) mendaftakan diri ke Komisi Pemilihan

Close