Ditanam di Pinggir Kolam, Gambas Lebih Subur

GAMBAS atau oyong termasuk jenis tanaman sayur cukup populer. Jika piawai memasaknya, bagian buah dari sayur gambas bisa memiliki cita rasa serta tekstur khas, bahkan diyakini mempunyai banyak kandungan gizi dan bermanfaat bagi kesehatan, misalnya bisa sebagai musuh kolesterol jahat, darah tinggi dan membantu menjaga imunitas tubuh.

Suatu hal menguntungkan pula, perawatan jenis tanaman merambat layaknya pare ini juga tak sulit. Selain itu dalam waktu antara 40 sampai 45 hari setelah tanam, sudah bisa rutin berbuah. Beberapa alasan ini memotivasi salah satu warga asal Sumberagung Sleman, Djupri, senang menanam sayur gambas. Lahan yang bisa ditanami, misalnya di pinggir kolam ikan. Ketika rutin disiram air kolam maupun sering diberi lumpur asal kolam, menjadikan tanaman bisa tampil lebih subur. Kualitas gambas yang dihasilkan pun bagus-bagus.

“Air kolam maupun lumpur dari kolam banyak yang meyakini banyak mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman antara lain karena ada kotoran-kotoran ikan. Bahkan dapat disebut sebagai pupuk organik yang dapat mendukung tingkat pertumbuhan ataupun suburnya suatu tanaman,” ungkap Djupri kepada <I>Merapi<P>, baru-baru ini.

Hal penting lain dalam menanam sayur gambas, sebutnya, agar gambas terhindar dari ulat atau hama lain, sebaiknya sejak calon bakal buah gambas sampai saatnya dipanen <I>dibrongsong<P> atau dibungkus plastik bening. Selain itu terhindar dari terkena banyak air hujan, pasalnya jika banyak terkena air hujan, cita rasanya setelah dimasak bisa berbeda. Adapun pemanenan buah gambas, yakni ketika masih muda. Pasalnya, jika sudah ketuaan akan lebih keras serat-seratnya.

Beberapa ciri gambas masih muda, misalnya kulit buah masih berwarna hijau segar dan tak mengkilat. Selain itu kulit buah ketika dipencet masih lunak, mudah dipatahkan dan belum banyak berserat. Cara pemanenan gambas dapat dilakukan setiap dua hari sekali, dan dalam satu musim tanam pemanenan bisa dilakukan hingga 25–30 kali, antara lain tergantung varietas yang digunakan, perawatan dan kondisi atau tingkat kesuburan tanah.

“Saya merasa yakin, tanah yang rutin disiram dengan air kolam maupun diberi lumpur dari kolam, tingkat kesuburan atau unsur haranya lebih baik. Anak saya mencoba menempatkan tanaman bonsai di kompleks kolam, lalu rutin disiram dengan air kolam, tingkat kesuburannya juga bagus,” tandasnya.

Adapun jenis ikan yang senang ia pelihara di kolam di barat rumahnya, terutama nila merah serta gurami. Kedua jenis ikan ini diyakini memiliki tekstur daging yang khas, banyak nilai gizinya dan tak banyak berduri. Selain itu cocok dibuat menjadi beberapa jenis masakan ataupun cukup sekadar digoreng. Sewaktu-waktu ingin membuat lauk dari ikan, ia segera menjaring ikan di kolam. Apalagi ketika anak-cucu pas pada ngumpul.

“Saat ada lomba dusun, gurami dari kolam saya dengan berat sekitar lima kilogram ikut dipamerkan di akuarium. Tapi tak berselang lama setelah tim juri dan tamu-tamu pulang, guraminya mati. Mungkin pasokan oksigennya berkurang,” kenang Djupri. (Yan)

Read previous post:
Kartun Jurukunci, Jumat (4/12/2020)

Close