Pulang Dinas, Bripka Slamet Suryono Jadi Petani Sayuran

SLAMET Suryono nampak sibuk di lahan pertanian Dusun Krapyak Margoagung Seyegan Sleman. Ia tengah merawat tanaman cabai, jagung dan kacang panjang. Rutinitas menjadi petani sayuran ini dilakukannya sejak tahun 2015 silam.

Slamet Suryono bukan petani biasa. Ia adalah anggota Propam Polres Sleman, Polda DIY, berpangkat Bripka. Ia sudah dikenal di kalangan pedagang di pasar tradisional. Pria kelahiran 1979 ini kini sukses menjadi petani sayuran.

Ia mengaku kesuksesannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia pun berkali-kali jatuh. Awal-awal menjadi petani, kesulitan yang dialaminya sama dengan kesulitan petani secara umum yakni sulitnya akses modal.

“Selain itu juga gagal panen, tanaman diserang hama patek saat musim huja, serta jatuhnya harga komoditas pertanian,” ucap Bripka Slamet.

Namun ia tetap istiqomah menanam cabai, menurutnya cabai adalah salah satu tanaman yang paling sederhana tapi membutuhkan keuletan dan kerja keras. Awal bertani pada tahun 2015, ia sempat putus asa karena harga anjlok.

Namun demikian, orang tuanya yakni Suyadi Utomo terus memberi semangat agar tidak pantang menyerah. Hal tersebut tentunya menjadi motivasi Bripka Slamet untuk terus menjadi seorang pertani sayuran.

Hal itu terbukti dengan meroketnya harga cabai saat dirinya panen. Dengan hasil yang memuaskan, dirinya semakin semangat dan hingga saat ini terus menekuni usahanya sebagai petani sayuran khususnya cabai.

“Butuh keuletan dan kerja keras, meski lahan sempit. Untuk sukses butuh perjuangan. Saat saya hampir putus asa, tapi bapak saya selalu memberi semangat agar tetap bertani hingga sekarang,” katanya.

Di tengah kesibukannya menjadi anggota polisi, ia tetap meluangkan waktunya bertani. Setiap waktu luang, ia gunakan untuk menggarap sawahnya tanpa menggangu perkerjaanya utamanya sebagai anggota polisi.

“Pulang dinas saya langsung ke sawah untuk merawat tanaman cabai, jagung dan kacang panjang dibantu bapak dan adik saya. Mereka selalu memberi motivasi agar tidak pernah putus asa,” ucapnya.

Ia berharap generasi muda mau mencontoh apa yang dilakukannya, terlebih saat pandemi Covid-19 ini. Selain mendapat keuntungan, Bripka Slamet bangga karena bisa menciptakan ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19.

“Sebab bertani sebenarnya adalah pekerjaan mulia, persis seperti tradisi leluhur kita sejak jaman dulu,” ungkap suami dari Sulis Tiyaningsih ini.

Dengan banyaknya pengalaman yang diperoleh, ia serius mempelajari teknik budi daya cabai, sekaligus menghitung waktu penanaman yang tepat. Hal itu sangat penting agar saat panen harga cabainya tak jatuh.

“Saya jadi petani cabai ini secara tidak sengaja. Awalnya karena kasihan sama bapak, sudah tua tapi masih menggarap sawa. Makanya saya mulai membantu dan di ajari cara menanam cabai,” tandanya.

Ketekunannya membuahkan hasil, produktivitas cabai yang dia tanam tinggi. Terlebih saat ini harga cabai cenderung masih tinggi. “Alhamdulillah bisa membantu ekonomi keluarga dari hasil bertani sayuran,” ujarnya. (Shn)

Read previous post:
Thermogun Eror, Pengunjung Malioboro Tak Dicek Suhu

Close