• Selasa, 7 Desember 2021

Tujuh Belasan di Masa Pandemi, Sederhana Tapi Penuh Makna

- Sabtu, 14 Agustus 2021 | 10:19 WIB
Sejumlah warga salah satu perumahan di Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah memasang hiasan bernuansa Merah Putih untuk menyambut HUT Ke-76 RI, belum lama ini.  ((ANTARA/Hari Atmoko))
Sejumlah warga salah satu perumahan di Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah memasang hiasan bernuansa Merah Putih untuk menyambut HUT Ke-76 RI, belum lama ini. ((ANTARA/Hari Atmoko))

Isi surat yang terkait dengan upaya pencegahan penularan Covid-19 itu, antara lain peringatan HUT RI secara sederhana namun khidmat dengan menerapkan protokol kesehatan, peniadaan berbagai lomba yang berpotensi kerumunan massa, acara seremonial dan perlombaan mengutamakan pemanfaatan teknologi informatika atau secara virtual.

Masyarakat memang didorong mengemas wujud peringatan dan perayaan "tujuh belasan" dengan tepat di tengah pandemi supaya tidak berisiko penularan Covid-19. Tentunya wujudnya tidak seperti situasi normal sebelum pandemi. Mungkin terkesan menjadi lebih sederhana, bisa secara virtual, atau bentuk lainnya yang menjamin lebih kuat tidak terjadi penularan virus.

Hal yang jelas masyarakat tak ingin melepas begitu saja momentum pencarian pemaknaan baru atas peristiwa kemerdekaan RI pada 76 tahun lalu. Masyarakat tetap ingin menyatakan syukur atas kemerdekaan dan meng-"upgrade" semangatnya sesuai tuntutan kekiniannya.

Tentu saja, spirit peringatan Hari Kemerdekaan tahun ini, menjadi kekuatan penting pemaknaan masyarakat dalam menghadapi tantangan bersama, yakni pandemi Covid-19.

Serangan pandemi selama lebih dari 1,5 tahun terakhir ini bukan sekadar menyasar orang per orang atau sebagai penyakit herediter. Pandemi virus sebagai serangan masif, anarkis, sembarangan, dan tiada ampun kepada siapa saja yang terlena.

Tingkat serangannya mungkin dipahami sebagai mengerikan kepada mereka yang sama sekali tak paham tentang Covid-19, pandemi, dan protokol kesehatan. Serangan pandemi terkesan makin brutal dengan sekarang muncul macam-macam varian mutasinya.

Risiko tinggi penularan juga terhadap mereka yang imunitasnya sedang drop, belum mengikuti vaksinasi, dan mereka yang masih terjebak kebiasaan berrelasi sebagaimana sebelum pandemi, seperti berkerumun, bersalaman, cipika-cipiki, dan menjalani mobilitas tinggi.

Peristiwa pandemi boleh dikatakan sebagai bentuk penjajahan terbaru atas kebebasan masyarakat abad ini. Serangan virus dengan varian baru ini butuh jalinan persatuan dan kesatuan berbagai lapisan masyarakat, bangsa, dan negara untuk menghadapinya.

Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan menyatakan bahwa pandemi tidak bisa hanya dihadapi pemerintah, tetapi harus dengan kebersamaan, persatuan, dan kesatuan seluruh bangsa dan negara.

Begitu pula para pemimpin, tokoh, dan pemuka masyarakat lainnya. Mereka pun menyadari dengan baik pentingnya persatuan dan kesatuan itu, sebagai kekuatan perjuangan menghadapi pandemi.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X