• Kamis, 29 September 2022

Kontribusi besar dari konsumen rokok masih dianggap beban bagi negara

- Rabu, 10 Agustus 2022 | 20:14 WIB
Sejumlah narasumber dalam FGD yang mengupas ketimpangan perlindungan hak konsumen dalam ekosistem pertembakauan di Jogja, Rabu (10/8/2022).  (Sutriono)
Sejumlah narasumber dalam FGD yang mengupas ketimpangan perlindungan hak konsumen dalam ekosistem pertembakauan di Jogja, Rabu (10/8/2022). (Sutriono)

HARIANMERAPI.COM - Konsumen rokok telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan negara. Hanya saja, konsumen rokok masih dianggap sebagai beban negara karena negara harus menanggung beban Rp 16 triliun untuk pengobatan masyarakat yang diakibatkan dari asap rokok.

Padahal di sisi lain, perokok dan ekosistem pertembakauan memberikan sumbangsih penerimaan negara dari Cukai Hasil Tembakau (CHT), yang porsinya sekitar 10 persen dari APBN atau sekitar Rp 188 triliun pada tahun 2021. Adapun jumlah konsumsi rokok masyarakat Indonesia sebanyak 322 miliar batang pada tahun 2020.

Baca Juga: Teka-teki motif pembunuhan berencana Brigadir J masih misteri

"Konsumen rokok menjadi warga yang dinomorduakan karena stereotipe bahwa perokok penyebab awal semua penyakit," kata Ketua Pakta Konsumen, Andie Kartala dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Ketimpangan Perlindungan Hak Konsumen dalam Kebijakan Ekosistem Pertembakauan di Jogja, Rabu (10/8/2022).

Andi mengatakan, konsumen produk tembakau memilki tanggungjawab pada negara dalam bentuk CHT dan pajak yang diamanatkan dalam PMK 192/PMK.010/2021. Namun demikian, partisipasi konsumen dalam regulasi nyaris tidak ada.

"Tidak pernah dilibatkan mulai dari public hearing, penyusunan naskah akademik sampai sosialisasi. Sehingga regulasi yang dihasilkan tidak berkeadilan, hanya dilihat dari satu sisi. Padahal, kami, konsumen produk tembakau adalah penyumbang cukai terbesar namun dalam praktiknya seolah-olah stereotipe konsumen ini adalah beban negara," ujarnya.

Baca Juga: Ferdy Sambo perintahkan Bharada E untuk menembak Brigadir J, Kapolri : Tidak ada tembak-menembak

Sekjen Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Hananto Wibosono membayangkan jika semua konsumen rokok berhenti merokok, maka dampak yang ditimbulkan akan sangat besar. Tidak hanya pabrik yang tutup, pekerja, petani, pelinting, peretail juga akan terdampak.

Ujung-ujungnya, lanjut Hananto, negara tidak memiliki tambalan 10 persen dari perolehan penerimaan dari hasil cukai tersebut.

Halaman:

Editor: Sutriono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X