• Senin, 27 Juni 2022

Prof Dr Mukhtasar: 5 Pedoman Bagi Umat Islam Sebagai Individu maupun Makhluk Sosial

- Senin, 2 Mei 2022 | 18:35 WIB
Guru Besar Fakultas Filsafat UGM, Prof Mukhtasar saat menyampaikan khutbah usai shalat Idul Fitri di SMPN 3 Godean.  (Foto: Sulistyanto)
Guru Besar Fakultas Filsafat UGM, Prof Mukhtasar saat menyampaikan khutbah usai shalat Idul Fitri di SMPN 3 Godean. (Foto: Sulistyanto)

SLEMAN, harianmerapi.com - Idul Fitri sejatinya adalah momen yang membawa kembali pesan tauhid. Bila dipahami lebih lanjut, komitmen bertauhid tidaklah terbatas pada hubungan vertikal dengan Allah, namun juga mencakup hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Oleh karena itu, melalui tauhid ini umat Islam memiliki tanggung jawab untuk membentuk suatu masyarakat yang mengejar nilai-nilai utama dan mengusahakan tegaknya keadilan sosial di seluruh lapisan masyarakat atau yang disebut dengan tauhid sosial.

Baca Juga: Pemalang Berduka, Tossa yang Dinaiki Anak-anak untuk Takbir Keliling Nyemplung Sungai, 2 Tewas Tenggelam

Hal tersebut dijelaskan Guru Besar Fakultas Filsafat UGM, Prof Dr Mukhtasar Syamsuddin saat khutbah usai shalat Idul Fitri di halaman tengah SMPN 3 Godean Sleman, Senin (2/5/2022). Ribuan jama’ah pun antusias mendengarkan khutbah dari awal sampai selesai.

Adapun pemahaman konsep tauhid sosial, sebut Prof Mukhtasar, melahirkan beberapa prinsip dasar yang bisa dijadikan pedoman bagi umat Islam baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

Kelima pedoman tersebut, yaitu: Pertama, religiusitas. Sebagai hamba Allah, umat Islam harus memiliki dasar keimanan yang kuat. Dasar yang pertama dan paling utama yaitu bertauhid kepada Allah.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata yang Buka Saat Lebaran di Sekitar Jalan Daendels Purworejo, Nomor 5 Makan Jambu Sepuasnya

Manifestasi dari keimanan ini yaitu melaksanakan seluruh ajaran Islam baik yang bersifat ibadah mahḍah (ibadah khusus seperti salat, puasa, zakat, haji) dan ibadah gairu mahḍah (ibadah umum seperti bermuamalah).

Kedua, kepercayaan. Seseorang yang di dalam hatinya telah tertanam kuat ketauhidan, pastilah memiliki kepercayaan yang tinggi kepada Allah. Percaya bahwa semua perbuatannya disaksikan oleh Allah dan juga percaya bahwa segala sesuatu yang menimpanya telah ditakdirkan oleh Allah.

Ketiga, keseimbangan. Seorang muslim harus mampu menakar secara seimbang aktifitas yang dilakukan sehari-hari. Beribadah secukupnya dan bermuamalah secukupnya, tidak timpang karena terlalu berlebih-lebihan dalam mengerjakan suatu hal.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X