• Sabtu, 25 Juni 2022

Deteksi Dini Stunting, UGM Kembangkan Perangkat GAMA-KiDS, Begini Cara Kerjanya

- Kamis, 23 Desember 2021 | 13:15 WIB
im peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan perangkat GAMA-KiDS untuk deteksi dini stunting (Foto: Dokumentasi Humas UGM)
im peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan perangkat GAMA-KiDS untuk deteksi dini stunting (Foto: Dokumentasi Humas UGM)

JOGJA, harianmerapi.com- Permasalahan stunting pada anak di Indonesia tidak pernah ada habisnya. Diperlukan kecepatan deteksi dini untuk mengatasi stunting yang dapat dilakukan oleh kader Posyandu.

Tim peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan perangkat guna meningkatkan kemampuan Posyandu dalam melakukan deteksi dini stunting.

Alat yang diberi nama GAMA-KiDS merupakan sebuah kit yang terdiri dari tikar untuk mengukur panjang badan, cakram ukur status gizi panjang badan menurut usia (PB/U), dan buku petunjuk penggunaan.

Baca Juga: Pemkab Temanggung Targetkan Angka Stunting Turun, 1.827 Orang Pendamping Keluarga Dikerahkan

“Apabila seorang anak stunting tidak segera dilakukan upaya perbaikan status gizi, di masa dewasa ia tidak akan menjadi orang yang produktif, mudah sakit, dan menjadi beban baik bagi dirinya sendiri, keluarga, dan negara,” ujar Ketua Peneliti, Siti Helmyati, Kamis (23/12/2021).
Dia mengatakan, stunting merupakan kondisi tinggi atau panjang badan anak yang kurang dari 2 standar deviasi dari rerata tinggi atau panjang badan kelompok usianya.

Stunting dapat berdampak pada penurunan kemampuan kognitif, sistem imun yang lemah dan perkembangan emosional yang kurang.

Upaya deteksi dini stunting, menurutnya, masih menghadapi sejumlah kendala. Belum semua kader Posyandu mampu melakukan deteksi dini stunting. Selain itu, tidak semua daerah memiliki alat ukur panjang badan yang valid.

Baca Juga: Angka Stunting di Kabupaten Temanggung Masih Capai Ribuan

Dijelaskan, banyak alat ukur panjang badan yang digunakan dibuat sendiri secara swadaya oleh masyarakat dan belum teruji validitasnya.

Pada masa pandemi, kondisi ini semakin parah karena banyak posyandu harus ditutup untuk mencegah penularan sehingga sejumlah kader posyandu harus mendatangi rumah-rumah balita untuk melakukan pengukuran.

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

800 Calon Haji DIY Tertunda Keberangkatannya

Rabu, 8 Juni 2022 | 20:40 WIB
X