• Minggu, 3 Juli 2022

Pakar UGM Ingatkan Bahaya Sekunder Usai Gunung Semeru Erupsi, Banjir Lahar Hujan Hingga Erupsi Susulan

- Senin, 6 Desember 2021 | 15:53 WIB
Konferensi pers potensi bahaya sekunder erupsi Gunung Semeru di Auditorium FMIPA UGM, Senin (6/12/2021). (Foto: Dokumentasi Humas UGM)
Konferensi pers potensi bahaya sekunder erupsi Gunung Semeru di Auditorium FMIPA UGM, Senin (6/12/2021). (Foto: Dokumentasi Humas UGM)


JOGJA, harianmerapi.com - Pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja mengingatkan adanya bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung yang diakibatkan dari Gunung Semeru erupsi. Potensi bahaya sekunder misalnya banjir bandang yang membawa material vulkanik di daerah hulu.

“Erupsi selesai, potensi ancaman bencana masih ada. Bulan Desember, Januari, dan Februari kita perlu memperhatikan potensi aliran lahar dan juga erupsi susulan,” ujar Dosen Fakultas Geografi UGM, Danang Sri Hadmoko dalam konferensi pers di Auditorium FMIPA UGM, Senin (6/12/2021).

Dia mengatakan adanya fenomena La Nina memunculkan potensi hujan tinggi sehingga masyarakat yang berada di area sungai yang berhulu di Gunung Semeru perlu meningkatkan kewaspadaannya.

Baca Juga: Posko Tanggap Darurat Gunung Semeru: 15 Warga Meninggal, 27 Orang Dinyatakan Hilang

Masyarakat juga harus menghindari aktivitas dalam radius bahaya yang sudah ditetapkan oleh otoritas setempat.

“Beberapa sungai yang berhulu di Semeru itu perlu diwaspadai, supaya ketika terjadi aliran lahar di bagian tengah dan hilir yang banyak pemukiman bisa terselamatkan,” ujarnya.

Sementara itu, Pakar Geofisika UGM, Wahyudi mengatakan sejak tahun 2012, Gunung Semeru telah dinyatakan memiliki status Level 2 atau Waspada. Kemudian pada September 2020 mulai teramati aktivitas berupa kepulan asap putih dan abu-abu setinggi 200-700 m di puncak Semeru.

Aktivitas serupa berlanjut bulan Oktober 2020 setinggi 200-1000 m, dan pada 1 Desember 2020 terjadi awan panas sepanjang 2 - 11 km ke arah Kobokan di lereng tenggara. Pada 90 hari terakhir, tampak adanya peningkatan aktivitas kegempaan, terutama gempa erupsi.

“Ada yang mencapai 100 kali per hari, ini sudah bisa dijadikan prekursor terjadinya erupsi yang lebih besar,” ujarnya.

Baca Juga: Korban Luka Bakar Akibat Awan Panas Gunung Semeru Butuh Dokter Spesialis Bedah Plastik

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tips Memilih Hewan dan Mengolah Daging Kurban

Jumat, 1 Juli 2022 | 22:20 WIB
X