• Jumat, 12 Agustus 2022

Timbulkan Suara Bising dan Pencemaran Air, Warga Kembang Nanggulan Minta Aktivitas Tambang Pasir Dihentikan

- Jumat, 3 Desember 2021 | 18:43 WIB
Warga Kembang mengeluhkan dampak aktivitas tambang pasir di Sungai Progo (Foto: Amin Kuntari)
Warga Kembang mengeluhkan dampak aktivitas tambang pasir di Sungai Progo (Foto: Amin Kuntari)

KULON PROGO, harianmerapi.com - Warga Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo mengeluhkan aktivitas tambang pasir di Sungai Progo sekitar wilayah tersebut. Menurut warga, pertambangan pasir yang dilakukan tiga perusahaan swasta itu berdampak buruk bagi masyarakat berupa keringnya sumber air, pencemaran air sumur, suara bising hingga ambrolnya tebing sungai.

Perwakilan warga, Tri Harjono mengatakan, adapun empat padukuhan yang terdampak aktivitas tambang pasir di Kalurahan Kembang yakni Padukuhan Wiu, Pundak, Jomboran dan Nanggulan. Dari empat wilayah tersebut, total ada 40 Kepala Keluarga (KK) yang merasakan dampak buruk aktivitas pertambangan sejak 2020 lalu.

"Sumur kami menjadi kering hingga harus diperdalam beberapa meter. Airnya juga keruh, menjadi tidak layak konsumsi. Padahal, sumur adalah sumber mata air bagi kami," kata Tri kepada wartawan, Jumat (3/12/2021).

Baca Juga: 13 Ribu Hektare Lahan di Sumbing, Sindoro dan Prau Wilayah Temanggung Masuk Kategori Kritis

Menurut Tri, warga juga merasa terganggu dengan suara bising dari mesin tambang yang beroperasi diluar batas kewajaran yakni hingga larut malam. Hal ini membuat warga tidak bisa beristirahat dengan tenang. Selain itu, aktivitas pertambangan juga dituding warga menjadi penyebab ambrolnya tebing bantaran sungai karena penambang menggunakan mesin blombongan yang tidak sesuai spesifikasi.

"Sampai saat ini, kami juga belum pernah melihat izin resmi aktivitas tambang yang dilakukan tiga perusahaan tersebut," imbuhnya.

Sebenarnya menurut Tri, aktivitas tambang di wilayahnya sempat mendapat penolakan dari warga pada tahun 2017 lalu. Namun oleh pemerintah kalurahan, perusahaan swasta selaku penambang justru diberikan izin operasional dengan alasan banyak warga yang setuju. Bahkan di tahun ini disebut-sebut akan ada perluasan area tambang di wilayah setempat.

Baca Juga: Tak Sempat Banyak Cerita di Sidang Perdana, Laura Anna: Saya Bukan Mengemis Kasihan

"Padahal yang setuju bukan warga terdampak. Kami menuntut agar aktivitas tambang di wilayah kami segera dihentikan," tegasnya.

Sebagai langkah awal, perwakilan warga kemudian mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo. Kuasa hukum warga penolak yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Kali Progo (PMKP), Tuson Dwi Haryanto mengatakan, ketiga perusahaan tambang uang beroperasi tidak bertanggung jawab terhadap permasalahan yang kini dialami warga.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Baznas Kulon Progo serahkan santunan anak yatim

Selasa, 9 Agustus 2022 | 21:50 WIB

Enam pejabat Kulon Progo berebut kursi Sekda

Rabu, 3 Agustus 2022 | 19:30 WIB
X