• Sabtu, 13 Agustus 2022

Halau Massa Bikin Gaduh, Komunitas Malioboro Berjaga di Depan Gedung DPRD DIY

- Selasa, 14 September 2021 | 14:32 WIB
Warga komunitas Malioboro mengamankan area depan gedung DPRD DIY, Selasa (14/9/2021). (Wulan Yanuarwati  )
Warga komunitas Malioboro mengamankan area depan gedung DPRD DIY, Selasa (14/9/2021). (Wulan Yanuarwati )

YOGYA, harianmerapi.com - Sejumlah warga dan komunitas Malioboro yang terdiri atas paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pemgemudi becak berupaya mengamankan area depan gedung DPRD DIY, Selasa (14/9/2021).

Pasalnya sempat terjadi kegaduhan segerombol orang yang mengatasnamakan sebagai perwakilan buruh. Mereka mendatangi gedung DPRD DIY hendak melakukan audiensi menolak PPKM darurat dan meminta pembukaan sektor pariwisata tanpa syarat. Mereka berteriak-teriak membuat kegaduhan dan memasang atribut persis di depan gedung bagian dalam.

Perwakilan Paguyuban Tri Dharma, Rudiarto mengatakan warga Malioboro tidak melarang penyampaian aspirasi namun harus dilakukan sesuai dan tanpa mengerahkan massa. Apalagi DPRD DIY sejauh ini sangat terbuka menerima penyampaian aspirasi warga dengan baik.

Baca Juga: Durasi Kunjungan Wisatawan Malioboro Dibatasi Dua Jam, Pemkot Yogya Siapkan Simulasi

"Saya perwakilan Tri Dharma ya tidak harus dilakukan dengan cara pengerahan massa dan orasi di tempat terbuka karena pemerintah, dewan, sudah membuka diri untuk bisa menampung berbagai aspirasi dan kita berkacamata dari kejadian yang dulu bahwa ketika demo pengerahan massa rentan konflik, rentan terjadi kerusuhan," ujarnya.

Rudi menekankan apalagi kondisi Malioboro saat ini sedang bergerak merangkak pemulihan ekonomi masa pandemi. Apabila terjadi kegaduhan tentu akan berimbas pada kenyamanan.

Terlebih dia menerangkan kawasan Malioboro menjadi kawasan khusus objek wisata vital yang diatur Menteri Pariwisata dan ada pelarangan aktivitas demo di sana.

Baca Juga: Sultan Kaget Penambangan di Lereng Merapi Semakin Serakah

"Tapi bukan berarti menutup untuk aktivitas penyampaian aspirasi. Ya aspirasi bisa dilakukan, sekarang jamannya era digital ya kan, audiensi bisa, medsos bisa, keluhan-keluhan pemerintah bisa. Kenapa harus menggunakan kekuatan-kekuatan yang notabene orang yang gak tau kita geret-geret," imbuhnya.

Halaman:

Editor: Sutriono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X