• Selasa, 19 Oktober 2021

Isu Peretasan 10 Kementerian dan Lembaga di Indonesia Oleh 'Mustang Panda' Perlu Dicek Kebenarannya

- Minggu, 12 September 2021 | 15:39 WIB
Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC Dr. Pratama Persadha. A (NTARA/HO-CISSReC)
Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC Dr. Pratama Persadha. A (NTARA/HO-CISSReC)

SEMARANG, harianmerapi.com - Isu peretasan terhadap 10 kementerian dan lembaga di Tanah Air dengan menggunakan private ransomware (perangkat pemeras) bernama Thanos, mendapat tanggapan dari Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC. Lembaga tersebut memandang penting melakukan pengecekan terkait dengan kebenaran informasi tersebut.

"Bisa saja ini baru klaim sepihak. Oleh karena itu, perlu menunggu buktinya seperti pada kasus e-HAC Kemenkes beberapa waktu lalu," kata Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC Dr. Pratama Persadha melalui percakapan WhatsApp di Semarang, Minggu (12/9/2021).

Pakar keamanan siber ini mengemukakan hal itu terkait dengan informasi yang menyebutkan bahwa Mustang Panda Group, peretas asal Tiongkok, melakukan peretasan terhadap sejumlah kementerian/lembaga dengan menggunakan private ransomware bernama Thanos.

Baca Juga: PDIP Memberikan Apresiasi Kepada Walikota Salatiga, Terkait Pengembalian Jabatan ASN

Kalau mereka sudah share bukti peretasannya seperti data dan biasanya upaya perusakan situs web (deface situs web), menurut Pratama, baru bisa menyimpulkan kebenaran terjadi peretasan. Apalagi, kesepuluh kementerian/lembaga mana saja yang diretas masih belum jelas.

Namun, bila ini spionase antarnegara, menurut dosen pascasarjana Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) ini, memang bukti akan lebih sulit untuk didapatkan karena motifnya bukan ekonomi maupun popularitas.

Dikatakan pula bahwa hal ini tetap bagus sebagai trigger (pemicu) semua kementerian/lembaga pemerintah di Indonesia untuk mulai mengecek sistem informasi dan jaringannya.

"Lakukan security assessment di sistemnya masing-masing. Perkuat pertahanannya, upgrade sumber daya manusianya, dan buat tata kelola pengamanan siber yang baik di institusinya masing-masing," kata pria asal Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

Baca Juga: Satgas Pamtas Gagalkan Penyelundupan Mobil Land Cruiser Asal Malaysia. Sopir Berhasil Melarikan Diri

Pada pertengahan 2020, kata Pratama, juga terjadi isu serupa di lingkungan Kemenlu dan beberapa BUMN. Saat itu ada warning dari Australia bahwa email salah satu diplomat Indonesia mengirimkan malware aria body ke email salah satu pejabat di Australia Barat.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X