• Selasa, 16 Agustus 2022

Penyebaran Covid Varian MU Tidak Secepat Varian Delta. Ini Penjelasan Ahli Virologi

- Senin, 6 September 2021 | 15:02 WIB
Ilustrasi - Vaksinasi COVID-19 di wilayah Kabupaten Klungkung, Bali, Senin (6/09/2021). ANTARA/HO-Polres Klungkung. (ANTARA/HO-Polres Klungkung)
Ilustrasi - Vaksinasi COVID-19 di wilayah Kabupaten Klungkung, Bali, Senin (6/09/2021). ANTARA/HO-Polres Klungkung. (ANTARA/HO-Polres Klungkung)

DENPASAR, harianmerapi.com - Ahli virologi Universitas Udayana Bali Prof I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan bahwa penyebaran virus Covid-19 varian MU tidak secepat penyebaran varian delta. Selain itu, belum ada bukti apakah lebih ganas MU daripada delta atau sebaliknya

"Bisa dilihat daya sebar varian MU tidak secepat varian delta. Justru varian delta ini lebih cepat dari MU," kata Prof Kade Mahardika saat dikonfirmasi melalui telepon di Denpasar, Bali, Senin (6/9/2021).

Meskipun demikian, dia menyatakan, untuk tingkat keparahan dari masing-masing varian virus tersebut belum ada data dan bukti yang pasti.

Baca Juga: Indonesia Perlu Perkuat Rencana Mitigasi Jangka Panjang Untuk Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

"Untuk yang sudah vaksinasi, saya kira masih berkhasiat dengan kekebalan tubuh yang baik. Sehingga belum perlu untuk dikhawatirkan," katanya.

Ia mengatakan bahwa varian MU saat ini sudah menjadi varian yang perlu dipelajari. Awal 2021 sudah dikabarkan muncul di Kolombia, selain itu tidak hanya di Kolombia varian MU juga menyebar di wilayah lain dengan persentase yang rendah.

Menurutnya, munculnya varian MU bisa jadi turunan dari varian Alpha yang menyebar dari Inggris. Bila dibandingkan dengan varian delta, varian MU tidak menyebar secepat varian delta.

Baca Juga: Korban Perundungan di KPI Masih Trauma dan Alami Gangguan Psikis

"Bahkan varian delta muncul bulan belakangan daripada varian MU tapi sudah dominan. Di dunia 70-90 persen virus yang bersirkulasi adalah varian delta," katanya.

Ia mengatakan bahwa saat ini penting adanya memperketat keluar masuknya orang asing ke Indonesia. Aturan PCR dan karantina untuk tidak dilonggarkan.

"Yang penting masuknya orang asing ke Indonesia dan diikuti PCR negatif lalu karantina 5 hari. PCR negatif itu jangan dilonggarkan dan tetap ketat dijalankan. Saya yakin belum ada negara yang aman dan bisa menekan masuknya varian baru dari luar. Jadi seminimal mungkin bisa cegah risiko masuk ke Indonesia," katanya.*

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BMKG : Waspadai angin kencang di Labuan Bajo

Minggu, 31 Juli 2022 | 12:10 WIB
X